Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FENG SHUI SEBAGAI EKOTEOLOGI PRAGMATIS: SEBUAH KAJIAN ATAS PEMIKIRAN OLE BRUUN DAN RELEVANSINYA DALAM PRAKTIK BISNIS DI INDONESIA Roberto Arieza Martin Purba; Muhtar Solihin; Munir
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1272

Abstract

Makalah ini mengkaji konsep feng shui dari perspektif Ole Bruun, dengan fokus pada fungsi kosmologis dan perannya dalam persaingan sosial dan ekonomi. Studi ini kemudian dikontekstualisasikan dalam praktik bisnis kontemporer melalui studi kasus keluarga Salim, konglomerat Indonesia yang dikenal karena menerapkan feng shui sebagai pertimbangan strategis dalam bisnis mereka. Feng shui adalah tradisi perencanaan spasial berdasarkan pemahaman kosmik, spiritual, dan ekologis dalam budaya Tiongkok. Dalam wacana global, feng shui telah bertransformasi menjadi praktik yang menyertai keputusan bisnis, desain arsitektur, dan perencanaan kota modern. Di Indonesia, praktik ini telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi diaspora Tionghoa, yang terlihat pada tokoh-tokoh seperti keluarga Salim. Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan Ole Bruun tentang feng shui dan menilai relevansinya dalam praktik ekonomi modern Indonesia. Melalui analisis kritis, makalah ini menilai sejauh mana teori Bruun dapat menjelaskan keberhasilan ekonomi modern yang memasukkan feng shui ke dalam praktik pengambilan keputusan. Studi ini menyimpulkan bahwa feng shui ada sebagai ekoteologi pragmatis yang memainkan peran penting sebagai modal budaya dan legitimasi sosial dalam kegiatan bisnis, tetapi bukan sebagai satu-satunya penentu hasil ekonomi.
FENG SHUI SEBAGAI EKOTEOLOGI PRAGMATIS: SEBUAH KAJIAN ATAS PEMIKIRAN OLE BRUUN DAN RELEVANSINYA DALAM PRAKTIK BISNIS DI INDONESIA Roberto Arieza Martin Purba; Muhtar Solihin; Munir
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1272

Abstract

Makalah ini mengkaji konsep feng shui dari perspektif Ole Bruun, dengan fokus pada fungsi kosmologis dan perannya dalam persaingan sosial dan ekonomi. Studi ini kemudian dikontekstualisasikan dalam praktik bisnis kontemporer melalui studi kasus keluarga Salim, konglomerat Indonesia yang dikenal karena menerapkan feng shui sebagai pertimbangan strategis dalam bisnis mereka. Feng shui adalah tradisi perencanaan spasial berdasarkan pemahaman kosmik, spiritual, dan ekologis dalam budaya Tiongkok. Dalam wacana global, feng shui telah bertransformasi menjadi praktik yang menyertai keputusan bisnis, desain arsitektur, dan perencanaan kota modern. Di Indonesia, praktik ini telah menjadi bagian dari dinamika ekonomi diaspora Tionghoa, yang terlihat pada tokoh-tokoh seperti keluarga Salim. Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan Ole Bruun tentang feng shui dan menilai relevansinya dalam praktik ekonomi modern Indonesia. Melalui analisis kritis, makalah ini menilai sejauh mana teori Bruun dapat menjelaskan keberhasilan ekonomi modern yang memasukkan feng shui ke dalam praktik pengambilan keputusan. Studi ini menyimpulkan bahwa feng shui ada sebagai ekoteologi pragmatis yang memainkan peran penting sebagai modal budaya dan legitimasi sosial dalam kegiatan bisnis, tetapi bukan sebagai satu-satunya penentu hasil ekonomi.
From Waḥdat al-Wujūd to Waḥdat al-Adyān: Reconstructing Ibn ʿArabī’s Conceptualisation of Religious Diversity Sobar Al Ghazal; Muhtar Solihin; Munir Munir; Radea Yuli A. Hambali
An-Nida' Vol. 50 No. 1 (2026): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v50.i1.39517

Abstract

This article seeks to reconstruct the concept of Waḥdat al-Adyān (the Unity of Religions) within the thought of Ibn ʿArabī and to assess its relevance through a comparative analysis with the Perennial Philosophy. The significance of this study lies in addressing the often reductive interpretations of the unity of religions, which have tended either towards an unqualified form of religious pluralism or as a rationale for theological exclusivism, thereby necessitating a more nuanced conceptual reconstruction. Employing a qualitative methodology, this research undertakes philosophical and conceptual analyses of Ibn ʿArabī’s principal works alongside those of prominent perennialist thinkers, notably Frithjof Schuon and Seyyed Hossein Nasr. The findings reveal that, from Ibn ʿArabī’s perspective, religious diversity is an ontological consequence of the manifestations of the Infinite Absolute Reality (al-Ḥaqq), rather than a contradiction of truth. The reconstruction of Waḥdat al-Adyān is articulated through three interrelated dimensions: ontological, epistemological, and theological. Ontologically, religious diversity is construed as the phenomenal expression of a single ultimate reality; epistemologically, plurality is attributed to the limitations inherent in human understanding; and theologically, the concept recognises a hierarchy of truth while affirming the possibility of salvation for sincere seekers of truth. This study contributes to the advancement of Islamic intellectual scholarship by proposing a metaphysical model that reconciles the unity of ultimate reality with religious diversity, thereby offering a philosophical foundation for interreligious dialogue that eschews both exclusivism and relativism.