Siska Sakti Angraini
Universitas Syedza Saintika

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EDUKASI KESEHATAN TENTANG TANDA DAN PENANGANAN AWAL INFARK MIOKARD PADA PASIEN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BELIMBING Siska Sakti Angraini; vino rika nofia; Rhona Shandra; Honesty Diana Morika; Roza Marlinda; Andika Herlina Pratama
Jurnal Abdimas Saintika Vol 8, No 1 (2026): Mei Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v8i1.30912

Abstract

ABSTRAK Kelurahan Gunung Sarik merupakan wilayah kerja Puskesmas Belimbing dengan jumlah penderita penyakit tidak menular yang cukup tinggi, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit ini merupakan faktor risiko utama terjadinya Infark Miokard yang dapat menyebabkan kematian mendadak apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Secara global, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi, dan infark miokard termasuk kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera dalam periode emas (golden period) untuk mencegah kerusakan jantung yang lebih luas. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, sedangkan diabetes melitus mempercepat proses aterosklerosis yang berujung pada penyumbatan pembuluh darah koroner. Kombinasi kedua kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya infark miokard. Namun demikian, masih banyak masyarakat, khususnya kelompok berisiko, yang belum mampu mengenali tanda-tanda awal seperti nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, dan nyeri menjalar ke lengan atau rahang. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda dan penanganan awal infark miokard menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan penanganan di fasilitas kesehatan. Keterlambatan ini dapat meningkatkan angka komplikasi bahkan kematian. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan yang terstruktur dan mudah dipahami oleh masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien hipertensi dan diabetes melitus mengenai tanda dan penanganan awal infark miokard melalui edukasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah penyuluhan interaktif kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Belimbing. Kegiatan dilaksanakan selama 1 hari dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebanyak 18 orang (90%) peserta mengalami peningkatan pemahaman terkait gejala awal infark miokard, faktor risiko, serta tindakan awal yang harus dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat berisiko tinggi terhadap infark miokard.Kata kunci: Infark miokard, edukasi kesehatan, hipertensi, diabetes melitus                                                                  ABSTRACTGunung Sarik is part of the working area of Belimbing Public Health Center, where the prevalence of non-communicable diseases, particularly hypertension and diabetes mellitus, remains high. These conditions are major risk factors for Myocardial Infarction, a life-threatening condition requiring immediate management within the golden period to prevent severe cardiac damage. Hypertension causes damage to blood vessel walls, while diabetes mellitus accelerates atherosclerosis, leading to coronary artery obstruction. The coexistence of these conditions significantly increases the risk of myocardial infarction. However, limited public awareness, especially among high-risk groups, regarding early symptoms such as chest pain, shortness of breath, cold sweating, and radiating pain contributes to delayed treatment and increased mortality. This community service aimed to improve knowledge among patients with hypertension and diabetes mellitus regarding early signs and initial management of myocardial infarction through health education. An interactive educational session was conducted in the working area of Belimbing Public Health Center with 20 participants.The results showed that 18 participants (90%) demonstrated improved understanding after the intervention. In conclusion, health education is effective in increasing knowledge among high-risk populations as a preventive and promotive strategy.Keywords: myocardial infarction, health education, hypertension, diabetes mellitus 
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN SIRSAK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI LANSIA WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTO BARU KOTA SUNGAI PENUH Siska Sakti Angraini; Honesty Diana Morika; Rahma Kurnia Ilahi
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 9, No 1 (2026): Mei 2026
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v9i1.30911

Abstract

ABSTRAKHipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak dialami oleh lansia dan dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti stroke, gagal jantung, serta penyakit ginjal kronis. Berdasarkan data WHO, prevalensi hipertensi pada lansia di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dengan angka kejadian tertinggi pada kelompok usia di atas 60 tahun. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan tekanan darah adalah pemberian air rebusan daun sirsak, yang mengandung senyawa aktif seperti acetogenins, alkaloid, dan flavonoid yang berfungsi sebagai vasodilator alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan daun sirsak terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Koto Baru Kota Sungai Penuh. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Paired T-Test. Populasi penelitian adalah pasien hipertensi lansia berusia lebih dari 60 tahun dengan jumlah sampel sebanyak 16 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah sistolik sebelum intervensi adalah 170,63 mmHg dan setelah intervensi menurun menjadi 146,81 mmHg. Rata-rata tekanan darah diastolik sebelum intervensi adalah 101,13 mmHg dan setelah intervensi menurun menjadi 89,00 mmHg. Hasil uji statistik menunjukkan adanya pengaruh signifikan pemberian air rebusan daun sirsak terhadap penurunan tekanan darah dengan nilai p-value = 0,000 (p ≤ 0,05). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif terapi nonfarmakologis bagi lansia dan keluarga dalam membantu menurunkan tekanan darah di Wilayah Kerja Puskesmas Koto Baru Kota Sungai Penuh.Kata kunci: Air Rebusan daun sirsak, tekanan darah, hipertensi, lansia ABSTRACTHypertension is one of the degenerative diseases commonly experienced by the elderly and can increase the risk of complications such as stroke, heart failure, and chronic kidney disease. According to WHO data, the prevalence of hypertension among the elderly in Indonesia continues to increase every year, with the highest incidence found in individuals over 60 years of age. One non-pharmacological therapy that can help reduce blood pressure is the administration of soursop leaf decoction, which contains active compounds such as acetogenins, alkaloids, and flavonoids that function as natural vasodilators. This study aimed to determine the effect of soursop leaf decoction on blood pressure among elderly patients with hypertension in the working area of Koto Baru Public Health Center, Sungai Penuh City. Data analysis was performed using univariate and bivariate analyses with the Paired T-Test statistical method. The population in this study consisted of elderly patients aged over 60 years with a total sample of 16 respondents. The results showed that the average systolic blood pressure before the intervention was 170.63 mmHg and decreased to 146.81 mmHg after the intervention. The average diastolic blood pressure before the intervention was 101.13 mmHg and decreased to 89.00 mmHg after the intervention. Statistical test results indicated a significant effect of soursop leaf decoction on the reduction of blood pressure, with a p-value = 0.000 (p ≤ 0.05). The results of this study are expected to serve as an alternative non-pharmacological therapy for the elderly and their families in helping to lower blood pressure in the working area of Koto Baru Public Health Center, Sungai Penuh City.Keywords: Soursop leaf decoction, blood pressure, hypertension, elderly