ABSTRAK Kelurahan Gunung Sarik merupakan wilayah kerja Puskesmas Belimbing dengan jumlah penderita penyakit tidak menular yang cukup tinggi, terutama hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit ini merupakan faktor risiko utama terjadinya Infark Miokard yang dapat menyebabkan kematian mendadak apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Secara global, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi, dan infark miokard termasuk kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera dalam periode emas (golden period) untuk mencegah kerusakan jantung yang lebih luas. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, sedangkan diabetes melitus mempercepat proses aterosklerosis yang berujung pada penyumbatan pembuluh darah koroner. Kombinasi kedua kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya infark miokard. Namun demikian, masih banyak masyarakat, khususnya kelompok berisiko, yang belum mampu mengenali tanda-tanda awal seperti nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, dan nyeri menjalar ke lengan atau rahang. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda dan penanganan awal infark miokard menjadi salah satu penyebab utama keterlambatan penanganan di fasilitas kesehatan. Keterlambatan ini dapat meningkatkan angka komplikasi bahkan kematian. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan yang terstruktur dan mudah dipahami oleh masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan pasien hipertensi dan diabetes melitus mengenai tanda dan penanganan awal infark miokard melalui edukasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah penyuluhan interaktif kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Belimbing. Kegiatan dilaksanakan selama 1 hari dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebanyak 18 orang (90%) peserta mengalami peningkatan pemahaman terkait gejala awal infark miokard, faktor risiko, serta tindakan awal yang harus dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat berisiko tinggi terhadap infark miokard.Kata kunci: Infark miokard, edukasi kesehatan, hipertensi, diabetes melitus ABSTRACTGunung Sarik is part of the working area of Belimbing Public Health Center, where the prevalence of non-communicable diseases, particularly hypertension and diabetes mellitus, remains high. These conditions are major risk factors for Myocardial Infarction, a life-threatening condition requiring immediate management within the golden period to prevent severe cardiac damage. Hypertension causes damage to blood vessel walls, while diabetes mellitus accelerates atherosclerosis, leading to coronary artery obstruction. The coexistence of these conditions significantly increases the risk of myocardial infarction. However, limited public awareness, especially among high-risk groups, regarding early symptoms such as chest pain, shortness of breath, cold sweating, and radiating pain contributes to delayed treatment and increased mortality. This community service aimed to improve knowledge among patients with hypertension and diabetes mellitus regarding early signs and initial management of myocardial infarction through health education. An interactive educational session was conducted in the working area of Belimbing Public Health Center with 20 participants.The results showed that 18 participants (90%) demonstrated improved understanding after the intervention. In conclusion, health education is effective in increasing knowledge among high-risk populations as a preventive and promotive strategy.Keywords: myocardial infarction, health education, hypertension, diabetes mellitus