AbstractThe Goa Gajah Tourism Attraction faces a critical dilemma between preserving its 11th-century cultural heritage and managing the escalating pressures of mass tourism. This study aims to assess the site's existing conditions and develop a management strategy that balances conservation with economic objectives. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach, data were collected through observation and documentation, then analyzed using SWOT analysis integrated with IFAS and EFAS matrices. The scientific findings reveal a management paradox: although the site possesses strong legal standing and adequate fiscal resources through a 20% maintenance fund allocation, physical degradation, such as mechanical cracking and biotic weathering, persists due to arterial road vibrations and the absence of visitor capacity management. The strategic analysis positions the site in the Growth and Stability quadrant, yet it remains highly vulnerable to spatial risks. The study concludes that preservation solutions cannot rely solely on physical restoration but require regional planning interventions through spatial deconcentration strategies, diversification of attractions, and the implementation of strict defensive buffer zones to mitigate infrastructure impacts and ensure the site's long term sustainability.Keywords: Sustainable Tourism; Cultural Heritage; Goa Gajah; ConservationAbstrakDaya Tarik Wisata (DTW) Goa Gajah menghadapi tantangan kritis dalam menyeimbangkan pelestarian warisan budaya abad ke-11 dengan tekanan pariwisata massal yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting situs serta merumuskan strategi pengelolaan yang menyelaraskan aspek konservasi dan ekonomi. Penelititan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis SWOT yang diintegrasikan dengan matriks IFAS dan EFAS. Temuan ilmiah menunjukkan adanya paradoks pengelolaan: meskipun situs memiliki legalitas kuat dan sumber daya fiskal memadai melalui alokasi dana pemeliharaan 20%, degradasi fisik berupa keretakan mekanis dan pelapukan biotis terus terjadi akibat getaran yang bersumber dari jalan arteri dan ketiadaan manajemen kapasitas pengunjung. Analisis strategis menempatkan situs pada posisi Pertumbuhan dan Stabilitas, namun dengan kerentanan spasial yang tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa solusi pelestarian tidak cukup hanya pada pemugaran fisik, melainkan memerlukan intervensi perencanaan wilayah melalui strategi dekonsentrasi spasial, diversifikasi atraksi wisata, dan penerapan zona penyangga defensif yang ketat untuk memitigasi dampak infrastruktur dan menjaga keberlanjutan situs jangka panjang.Kata Kunci: Pariwisata Berkelanjutan; Warisan Budaya; Goa Gajah; Konservasi