Sulung Najmawati Zakiyya
Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINJAUAN FIKIH MUAMALAH TERHADAP SISTEM PENETAPAN UPAH AGEN SHOPEE EXPRESS DI KOTA SAMARINDA Alvia Farras Tsabita; Sulung Najmawati Zakiyya; Ahmad Riyadi
Ghaly: Journal of Islamic Economic Law Vol. 4 No. 1 (2026): Ghaly: Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Islamic Economic Law Study Program, Faculty of Sharia Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Islamic State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/ghaly.v4i1.12074

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keresahan Agen Shopee Express di Kota Samarinda terhadap mekanisme penetapan upah (ujrah) oleh Shopee. Pada awal perjanjian, imbalan yang diberikan relatif tinggi, namun mengalami penurunan secara bertahap hingga mencapai Rp500 per paket. Kondisi ini menimbulkan persepsi ketidaksesuaian antara imbalan yang diterima dengan beban kerja yang dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme penetapan imbalan oleh Shopee kepada Agen Shopee Express Samarinda serta menganalisisnya dalam perspektif fiqh muamalah. Penelitian ini merupakan penelitian normatif-empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah pemilik Agen Shopee Express di Kota Samarinda, dengan objek penelitian berupa mekanisme penetapan imbalan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan ketentuan fiqh muamalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme penetapan imbalan meliputi empat tahap: perjanjian kontrak, proses pemberian imbalan, penetapan besaran imbalan, dan perubahan imbalan. Dalam tinjauan fiqh muamalah, sistem ini termasuk kategori ajrun musamma dalam akad wakalah bil ujrah, dengan rukun dan syarat akad yang telah terpenuhi sehingga secara hukum Islam dinilai sah. Namun, terdapat prinsip ujrah yang belum sepenuhnya terpenuhi, yaitu prinsip keadilan proporsional, karena besaran imbalan Rp500 per paket dinilai tidak sebanding dengan beban kerja agen yang mencakup penerimaan, penyortiran, dan penyerahan paket.
Reconceptualizing Marriage Validity: From Legal Formalism To Maqāṣid-Based Philosophical Foundations Sheila fakhria; Sulung Najmawati Zakiyya; Muhammad Ma’mun; Muzayyin Akhyar
Hukum Islam Vol 26 No 2 (2026): Islamic Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/9hastg97

Abstract

The interpretation of marriage validity in Indonesia is frequently trapped in legal formalism, which reduces "validity" to mere administrative compliance and procedural norms. This normative legal research employs philosophical, statutory, and conceptual approaches to reconceptualize the nature of marriage validity. The analyzed legal materials encompass Quranic verses, Hadith, Islamic jurisprudence (fiqh) and legal theory (uṣūl al-fiqh), the doctrine of maqāṣid al-sharī‘ah, the Compilation of Islamic Law (KHI), and marriage legislation. The findings present a reconstruction of marriage validity, shifting from formal validity to substantive validity grounded in maqāṣid al-sharī‘ah. Under this paradigm, marriage registration is established as a legal-religious instrument (wasīlah shar‘iyyah) that perfects religious legitimacy to operationalize the protection of honor (ḥifẓ al-‘irḍ), lineage (ḥifẓ an-nasl), and property (ḥifẓ al-māl). Concretely, this research provides significant contributions to legal policy reform and judicial decision-making in safeguarding the civil rights of women and children—specifically lineage certainty, inheritance, and maintenance—while assigning an active obligation to the state in facilitating marriage registration.