Romlah Abubakar
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Etika Penggunaan Artificial Intelligence dalam Pendidikan Islam: Analisis Hadis kepada Problematika Kejujuran Akademik di Era Digital Muhammad Rizki Saputra Rizki; M Suparta; Romlah Abubakar
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Februari 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i1.797

Abstract

Perkembangan AI membuat proses belajar jadi lebih mudah. Mahasiswa jadi cepat cari referensi, lebih mudah mengerti materi kuliah, lebih terbantu saat membuat tugas akademik, dan lebih cepat dapat informasi ilmiah. Akan tetapi, apabila AI dipakai terlalu sering dan berlebihan, muncul banyak masalah dalam etika akademik. Contohnya seperti plagiarisme, copy-paste, manipulasi data, terlalu bergantung pada teknologi, sampai kemampuan berpikir kritis mahasiswa jadi menurun. Penelitian ini dibuat untuk melihat hubungan hadis Nabi Muhammad saw. tentang amanah, kejujuran, dan adab menuntut ilmu sebagai dasar etika saat memakai AI dalam pendidikan Islam. Penelitian ini memakai metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif lewat kajian jurnal ilmiah, kitab hadis, dan literatur pendidikan Islam yang berkaitan dengan etika pemakaian AI dan integritas akademik. Teknik analisis data memakai analisis isi untuk mencari hubungan antara nilai dalam hadis dengan keadaan pemakaian AI di dunia akademik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hadis tentang amanah dan kejujuran sangat kuat hubungannya dengan masalah integritas akademik mahasiswa di era digital. Hadis Nabi tentang amanah menjelaskan bahwa mahasiswa wajib bertanggung jawab atas seluruh isi karya ilmiah yang dibuat walaupun ada bantuan teknologi. Hadis tentang kejujuran menjelaskan bahwa proses mencari ilmu harus dilakukan dengan jujur, sungguh-sungguh, dan tidak boleh sepenuhnya bergantung pada jawaban cepat dari AI. Penelitian ini memberi hasil bahwa AI dalam pendidikan Islam bukan teknologi yang dilarang, tetapi harus ditempatkan sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti cara berpikir manusia. Karena itu, nilai amanah, shidq, adab keilmuan, dan tanggung jawab moral sangat dibutuhkan supaya pemakaian AI tetap sesuai dengan etika pendidikan Islam dan tidak merusak integritas akademik mahasiswa.
Analysis of Nasakh Mansukh in the Hadith of Pilgrimage to the Grave April Liana Citra Imanniar; Romlah Abubakar; Miftahuddin Miftahuddin
Community: Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Hasil Penelitian
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/community.v5i1.277

Abstract

The hadith on grave visitation stands as one of the clearest examples of abrogation (nasakh) occurring within the prophetic tradition. In the early period of Islam, the Prophet Muhammad SAW prohibited his followers from visiting graves out of concern that such practice would lead to excessive veneration of graves, given that the community had only recently left behind the deeply rooted customs of the pre-Islamic era (jahiliyyah). As the foundation of monotheism grew stronger among Muslims, the prohibition was lifted and replaced with a directive that not only permitted but actively encouraged the practice of grave visitation. This study traces two central points: first, the shift in the legal ruling on grave visitation from prohibition to permissibility is examined through the lens of nasakh-mansukh within the science of hadith; second, the validity of that legal shift is assessed against the conditions of abrogation established in hadith sciences. This study employs a qualitative approach grounded in library research, drawing on the disciplines of hadith sciences and usul al-fiqh. The findings indicate that the prohibitory hadith on grave visitation holds the status of mansukh, having been legitimately replaced by the permissive hadiths upon the fulfillment of all conditions for valid abrogation. This abrogation was explicitly confirmed by Imam al-Nawawi, who stated that this constitutes a clear and evident case of abrogation, and that scholars are in consensus that grave visitation carries the status of sunnah.