Fadil
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DESAKRALISASI DAN RASIONALISASI AGAMA: STUDI KRITIS ATAS PEMIKIRAN NURCHOLISH MADJID DALAM LANSKAP ISLAM KONTEMPORER Nadiatul Maziyyah Attarwiyah; Fadil; Zaenul Mahmudi
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i1.478

Abstract

Pemikiran Nurcholish Madjid tentang desakralisasi dan rasionalisasi agama memiliki pengaruh besar dalam diskursus pembaruan Islam, khususnya dalam relasi antara agama, modernitas, dan kehidupan publik. Namun, kajian yang secara khusus mengintegrasikan kedua konsep tersebut sebagai satu kerangka analisis kritis masih jarang ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif konsep desakralisasi dan rasionalisasi agama dalam pemikiran Nurcholish Madjid serta implikasinya dalam Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dengan karya-karya Nurcholish Madjid sebagai sumber data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) desakralisasi dalam pemikiran Nurcholish Madjid merupakan kritik terhadap sakralisasi konstruksi historis-keagamaan, bukan terhadap wahyu; (2) rasionalisasi agama dilakukan dengan menggeser pola keberagamaan dari dogmatis menuju reflektif-substantif; dan (3) integrasi desakralisasi dan rasionalisasi melahirkan pergeseran otoritas keagamaan dari model hierarkis menuju model diskursif. Pemikiran Nurcholish Madjid memiliki keunggulan, yaitu mampu membedakan antara yang transenden dan historis serta mendorong keberagamaan yang lebih kritis dan kontekstual. Konsep ini dapat menjadi dasar dalam membaca transformasi Islam kontemporer dan pengembangan studi keislaman yang lebih adaptif terhadap modernitas.
Nontoni in the Tradition of the Javanese Muslim Society, Kperabon Perspective of Madzhab Shafi'I and the Anthropology of Islamic Law Abduloh Rohman Utomo; Fadil; Isroqunnajah
Jurnal Mahkamah : Kajian Ilmu Hukum dan Hukum Islam Vol. 11 No. 1 Juni (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jm.v11i1.7819

Abstract

Academic concern regarding the nontoni tradition stems from the tension between local cultural practices and the normative principles of Islamic law governing interactions between unmarried men and women. Practiced within the Muslim Javanese Keprabon community, nontoni remains an important stage in the spouse selection process while raising questions concerning its Sharīʿah legitimacy and its accommodation within Islamic legal discourse. This study aims to examine the implementation, social meaning, and legal implications of the nontoni tradition in Tulus Village, Tumpang District, Malang Regency, through the perspective of Islamic legal anthropology. The research employs an empirical qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation involving community leaders, religious figures, practitioners of the tradition, and local residents. Data analysis was conducted descriptively using the concepts of ʿurf, maṣlaḥah, relevant legal maxims (qawāʿid fiqhiyyah), and Islamic legal anthropology. The findings reveal that nontoni serves not only as a process of observing a prospective spouse but also as a cultural institution that facilitates mutual acquaintance, family deliberation, and social legitimation before marriage. From the perspective of Islamic legal anthropology, the tradition represents a dynamic form of ʿurf ṣaḥīḥ that remains compatible with Islamic law, provided it preserves ethical boundaries, avoids prohibited conduct, and supports the objectives of maqāṣid al-sharīʿah. The study demonstrates that local customs can coexist with Islamic legal principles through a contextual and culturally sensitive interpretation.