Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Wacana Nilai Moral dalam Video Animasi Cerita Ubay dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia Ramadhan Kusuma Yuda; Dewi Leni Mastuti; Elya Sasena
Cakrawala Indonesia Vol 11 No 1 (2026): Mei-Oktober
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jci.v11i1.2709

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral dalam video animasi cerita Ubay serta menganalisis relevansinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia . Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana dan pragmatik. Data berupa dialog dan adegan dalam video animasi yang dianalisis berdasarkan struktur wacana, tindak tutur, prinsip kerja sama, dan kesantunan berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur wacana dalam video animasi tersusun secara sistematis melalui tahapan orientasi, komplikasi, dan resolusi. Selain itu, ditemukan berbagai jenis tindak tutur, seperti ekspresif, direktif, dan representatif, serta penggunaan implikatur dalam dialog. Prinsip kerja sama dan kesantunan berbahasa juga terpenuhi dalam interaksi antar tokoh. Nilai moral yang terkandung dalam cerita meliputi saling memaafkan, tanggung jawab, empati, dan kerukunan. Nilai-nilai tersebut disampaikan secara implisit dan eksplisit melalui alur cerita dan dialog. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa video animasi memiliki relevansi yang kuat dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama dalam pengembangan keterampilan menyimak, berbicara, pemahaman teks naratif, serta penanaman nilai karakter. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa video animasi tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukatif yang mampu mengintegrasikan pembelajaran bahasa dengan penanaman nilai moral secara efektif pada siswa.
Analisis Mantra Pengobatan "Tawar" Pada Masyarakat Dayak Limbai Kabupaten Melawi Kalimantan Barat (Kajian Semiotik) Yelsi Fitri; Arni Arni; Ramadhan Kusuma Yuda
Ksatra: Jurnal Kajian Bahasa dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2025): Ksatra
Publisher : LPPM STKIP PGRI Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52217/75pp8h56

Abstract

This study aims to describe the meanings of icons, indices, and symbols in the “tawar” healing mantras of the Dayak Limbai community in Melawi Regency, West Kalimantan. This research employs a descriptive qualitative method with Charles Sanders Peirce’s semiotic approach. The data consist of ten healing mantras obtained through interviews and audio-recording techniques. The findings reveal 16 icons, 18 indices, and 18 symbols. Icons represent resemblance, indices indicate causal relationships, and symbols reflect cultural conventions and spiritual beliefs. These results indicate that the “tawar” mantra functions as traditional medicine as well as a form of local wisdom that can be integrated into Indonesian language learning.
Peningkatan Kapasitas Wirausaha dan Pemanfaatan Media Sosial sebagai Sarana Promosi Produk bagi Ibu Rumah Tangga Mai Yuliastri Simarmata; Rini Agustina; Fitriani; Yuyun Safitri; Ramadhan Kusuma Yuda
Kreasi: Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Juli
Publisher : BALE LITERASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kreasi.v6i2.3837

Abstract

This Community Service (PKM) activity aims to improve the entrepreneurial capacity and ability to utilize social media as a means of product promotion for housewives at P.H. Mukhsin Mega Mas, Sungai Raya Dalam, Kubu Raya Regency. Based on pre-observations, it was found that most participants had never attended formal entrepreneurship training, lacked understanding of product marketing strategies, and had not yet optimally utilized social media to support their businesses. The activity was implemented through training and mentoring methods, including an introduction to local product-based business opportunities, digital marketing strategies, and practical use of social media for product promotion. The activity involved 15 housewives who owned micro-enterprises. The results of the activity showed an increase in the participants' understanding of business management and digital marketing. Furthermore, participants began to develop the ability to create simple promotional content and utilize social media as a means of product marketing. This activity is expected to increase entrepreneurial motivation, expand marketing reach, and support sustainable family economic growth.
Pemaknaan Ruang dan Simbol Arsitektural dalam Puisi Monumen Tanpa Bayang di Khatulistiwa Karya Alfarid Rahman Hakim untuk Pembelajaran Apresiasi Sastra: Kajian Ruang dan Simbol Arsitektural Ramadhan Kusuma Yuda; Andrian Andrianaan
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/bahasa.v14i2.10007

Abstract

Penelitian ini umumnya menggunakan pendekatan semiotik dan/atau strukturalisme genetik untuk membongkar makna tersembunyi, terutama yang berkaitan dengan konteks sosial dan budaya di balik simbol-simbol arsitektural.Fokus:Analisis Fokus utama adalah pada bagaimana elemen arsitektur (seperti monumen, bayang-bayang, khatulistiwa, dll.) tidak hanya berfungsi sebagai latar fisik, tetapi juga sebagai simbol yang merefleksikan isu-isu sosial, politik, atau eksistensial. Konsep ruang dianalisis sebagai wadah makna yang berinteraksi dengan subjek (manusia) dan sejarah.. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi ini kaya akan metafora arsitektural yang menyiratkan tema-tema seperti kehilangan identitas, krisis spiritual, pengabaian sejarah, atau kontradiksi antara janji ideal (monumen) dan realitas tanpa makna (tanpa bayang). Monumen di sini sering dimaknai bukan sebagai struktur kejayaan, melainkan sebagai pengingat akan kehampaan atau ironi..Analisis mendalam ini sangat relevan untuk pembelajaran apresiasi sastra.Puisi ini dapat digunakan untuk mengajarkan siswa:Analisis Simbol:Mengidentifikasi dan menafsirkan simbol-simbol kompleks di luar makna literal.Pemahaman Konteks: Menghubungkan karya sastra dengan konteks sejarah, budaya, dan geografisnya (dalam hal ini, konsep Khatulistiwa).Keterampilan Menafsirkan Ruang: Memahami bagaimana elemen fisik seperti ruang dan bangunan diolah menjadi tema dan pesan oleh penyair. Kata Kunci:Puisi, Monumen Tanpa Bayang di Khatulistiwa, Alfarid Rahman Hakim, Semiotika, Simbol Arsitektural, Apresiasi Sastra. This research generally uses a semiotic and/or genetic structuralism approach to uncover hidden meanings, particularly those related to the social and cultural context behind architectural symbols.Analysis Focus: The primary focus is on how architectural elements (such as monuments, shadows, the equator, etc.) function not only as physical settings but also as symbols reflecting social, political, or existential issues. The concept of space is analyzed as a container of meaning that interacts with the subject (human) and history. The analysis shows that this poem is rich in architectural metaphors that imply themes such as: loss of identity, spiritual crisis, historical neglect, or the contradiction between an ideal promise (the monument) and a meaningless reality (without shadows). The monument here is often interpreted not as a structure of glory, but as a reminder of emptiness or irony. This in-depth analysis is highly relevant to learning literary appreciation. This poem can be used to teach students:Symbol Analysis: Identifying and interpreting complex symbols beyond their literal meaning.Understanding Context: Connecting a literary work to its historical, cultural, and geographical context (in this case, the concept of the Equator).Interpreting Space: Understanding how physical elements such as space and buildings are transformed into themes and messages by the poet.Keywords: Poetry, Monument Without Shadows on the Equator, Alfarid Rahman Hakim, Semiotics, Architectural Symbols, Literary Appreciation
Stilistika dalam Puisi Laboratorium Kasih Sayang Karya Vera Amanda dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Kajian Puisi Dini Hajjafiani; Ramadhan Kusuma Yuda; Yulita Ningsih
Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Universitas PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/bahasa.v15i1.10677

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aspek stilistika dalam puisi Laboratorium Kasih Sayang karya Vera Amanda serta relevansinya terhadap pembelajaran kajian puisi di tingkat perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi Laboratorium Kasih Sayang karya Vera Amanda dominan menggunakan metafora, personifikasi, dan citraan visual untuk memperkuat tema kasih sayang yang reflektif dan eksperimental. Penggunaan metafora membangun pemaknaan simbolik terhadap kasih sayang sebagai ruang pengujian batin, sementara personifikasi menghidupkan konsep abstrak menjadi lebih konkret dan ekspresif. Citraan visual memperjelas gambaran emosional yang ingin disampaikan penyair. Pemilihan diksi yang konotatif dan simbolik semakin mempertegas karakter puitis serta menciptakan suasana emosional yang mendalam dan kontemplatif. Secara keseluruhan, unsur stilistika yang digunakan menunjukkan kekhasan gaya penyair dalam mengolah bahasa secara estetis dan bermakna. Hasil penelitian ini relevan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran kajian puisi di tingkat perguruan tinggi. Kata Kunci: stilistika, relevansi, puisi