Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pergeseran Pola Kesantunan Berbahasa Antara Guru Dan Siswa Di Ruang Digital Titin Inayyah; Suhaidiyah Suhaidiyah; Nelly Wijayati; Ria Kasanova
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9377

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah memengaruhi pola komunikasi dalam dunia pendidikan, termasuk komunikasi antara guru dan siswa di grup WhatsApp kelas. Penggunaan WhatsApp sebagai media komunikasi akademik menyebabkan terjadinya perubahan gaya bahasa yang cenderung lebih santai, singkat, dan informal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pergeseran kesantunan berbahasa antara guru dan siswa dalam komunikasi digital di grup WhatsApp kelas berdasarkan prinsip kesantunan Geoffrey Leech serta mengidentifikasi bentuk penggunaan bahasa digital yang memengaruhi perubahan kesantunan dalam interaksi akademik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data penelitian berupa percakapan antara guru dan siswa dalam grup WhatsApp kelas yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi, dan koordinasi akademik. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, serta teknik simak dan catat. Data dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, analisis deskriptif, dan penarikan kesimpulan berdasarkan prinsip kesantunan berbahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi pergeseran kesantunan berbahasa, terutama pada maksim penghargaan dan maksim permufakatan. Pergeseran tersebut terlihat melalui penggunaan bahasa santai, candaan spontan, istilah populer digital, bahasa daerah, penggunaan stiker, serta respons nonformal dalam komunikasi akademik. Meskipun demikian, sebagian siswa masih mempertahankan bentuk penghormatan kepada guru melalui penggunaan sapaan hormat dan ungkapan permohonan maaf. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi digital menyebabkan batas formalitas dalam komunikasi akademik menjadi semakin longgar sehingga diperlukan upaya untuk membangun budaya komunikasi digital yang tetap santun dalam lingkungan pendidikan.
Representasi Madura dalam Antologi Puisi Sangkolan Karya Sugik Muhammad Sahar: Kajian Hermeneutika Paul Ricoeur Ridwan Lanya; Ismail Abdulloh; Titin Inayyah; Moh. Faiqurrohman; Nelly Wijayati; Anisa Fajriana Oktasari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10650

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi Madura serta mengungkap konstruksi identitas budaya Madura dalam Antologi Puisi Sangkolan karya Sugik Muhammad Sahar melalui pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tiga puisi, yaitu Madura di Linting Tembakau , Madura dalam Dekapan , dan Kidung Rindu Pulau Rantau . Data dikumpulkan melalui teknik baca, simak, dan katat, kemudian dianalisis menggunakan tahapan hermeneutika Paul Ricoeur yang meliputi distansiasi ( distansiasi ), penjelasan ( explanation ), dan apropriasi ( apropriasi ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antologi puisi tersebut merepresentasikan Madura melalui simbol-simbol budaya yang berhubungan dengan kehidupan agraris, maritim, tradisi lokal, religiositas, serta pengalaman perantauan. Simbol tembakau, tanah, hujan, garam, laut, rokat tanah, ibu, takbiran, dan rantau tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga merepresentasikan realitas sosial dan budaya masyarakat Madura yang dibangun melalui bahasa puitik. Berdasarkan proses interpretasi hermeneutik, konstruksi identitas budaya Madura dalam antologi ini terbentuk melalui empat dimensi utama, yaitu identitas agraris, identitas maritim, identitas tradisional-religius, dan identitas perantauan yang saling berkaitan dalam membangun memori masyarakat kolektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Sangkolan tidak hanya menjadi media ekspresi sastra, tetapi juga menjadi ruang representasi budaya yang merekam pengalaman, nilai, dan identitas masyarakat Madura secara simbolik sehingga menampilkan keterkaitan antara teks sastra dan kehidupan sosial budaya yang melahirkannya.