Penerapan kerangka Environment, Social, and Governance (ESG) di sektor perbankan menjadi elemen krusial untuk mendukung stabilitas ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran audit internal dalam proses identifikasi risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola pada industri perbankan di Indonesia. Studi ini mengaplikasikan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang bersifat eksploratif dan deskriptif. Pengumpulan data berfokus pada analisis dokumen sekunder, secara khusus laporan indeks keberlanjutan dari lembaga riset data independen, yang diinterpretasikan melalui penalaran deduktif serta triangulasi data berlandaskan paradigma interpretif guna memahami konteks institusional yang kompleks. Hasil penelitian mendemonstrasikan bahwa sektor perbankan domestik menghadapi risiko keberlanjutan yang multidimensional, ditandai oleh kesenjangan kinerja yang substansial antara bank berskala besar dengan bank berskala menengah dan kecil. Fungsi audit internal menduduki posisi strategis dalam memverifikasi keakuratan pelaporan, mencegah praktik manipulasi citra lingkungan, serta mengamankan kepatuhan terhadap regulasi perbankan berkelanjutan. Walaupun demikian, efektivitas fungsi ini terhambat oleh keterbatasan struktural yang mencakup defisit kompetensi teknis auditor pada dimensi lingkungan, keterbatasan alokasi sumber daya finansial, dan kurangnya dukungan pengawasan komprehensif dari jajaran dewan komisaris. Secara konklusif, fungsi audit internal tunggal tidak memadai untuk memastikan integrasi kerangka kerja keberlanjutan secara utuh di sektor perbankan. Oleh karena itu, studi ini mengimplikasikan urgensi penerapan pendekatan penjaminan gabungan yang mensinergikan peran pengawasan internal, pengawasan eksternal, dan manajemen strategis untuk memperkuat akuntabilitas pelaporan keberlanjutan perbankan secara holistik dan kolaboratif.