Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konstruksi Realitas Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto Dalam Berita Kompas.Com Salam Bin Suib; Moh. Faiqurrohman; Ria Kasanova
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9747

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi realitas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam pemberitaan Kompas.com menggunakan model analisis framing Robert N. Entman. Media massa, khususnya media online, memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman publik terhadap realitas politik melalui proses seleksi dan penonjolan fakta tertentu. Dalam konteks kepemimpinan politik, pemberitaan media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun makna yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap aktor politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Robert N. Entman yang meliputi empat elemen, yaitu define problems, diagnose causes, make moral judgement, dan treatment recommendation. Data penelitian berupa enam berita Kompas.com yang terbit pada periode Maret–Mei 2026 dan memuat isu-isu strategis terkait kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat, sedangkan analisis data dilakukan secara interpretatif dengan mengidentifikasi pola framing yang muncul dalam setiap berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com cenderung mengonstruksi Presiden Prabowo Subianto sebagai pemimpin yang aktif, responsif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah. Konstruksi tersebut terlihat melalui representasi Prabowo sebagai pelindung warga negara dalam penyelenggaraan ibadah haji, penggerak pembangunan ekonomi melalui kebijakan hilirisasi, pendorong transformasi industri nasional, pelaku diplomasi internasional yang aktif, serta pemimpin yang terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan kebijakan pemerintah. Temuan ini menunjukkan bahwa Kompas.com membingkai kepemimpinan Prabowo secara dominan positif melalui penekanan pada tindakan, solusi, dan tanggung jawab pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan nasional maupun internasional.
Representasi Madura dalam Antologi Puisi Sangkolan Karya Sugik Muhammad Sahar: Kajian Hermeneutika Paul Ricoeur Ridwan Lanya; Ismail Abdulloh; Titin Inayyah; Moh. Faiqurrohman; Nelly Wijayati; Anisa Fajriana Oktasari
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.10650

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi Madura serta mengungkap konstruksi identitas budaya Madura dalam Antologi Puisi Sangkolan karya Sugik Muhammad Sahar melalui pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tiga puisi, yaitu Madura di Linting Tembakau , Madura dalam Dekapan , dan Kidung Rindu Pulau Rantau . Data dikumpulkan melalui teknik baca, simak, dan katat, kemudian dianalisis menggunakan tahapan hermeneutika Paul Ricoeur yang meliputi distansiasi ( distansiasi ), penjelasan ( explanation ), dan apropriasi ( apropriasi ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antologi puisi tersebut merepresentasikan Madura melalui simbol-simbol budaya yang berhubungan dengan kehidupan agraris, maritim, tradisi lokal, religiositas, serta pengalaman perantauan. Simbol tembakau, tanah, hujan, garam, laut, rokat tanah, ibu, takbiran, dan rantau tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga merepresentasikan realitas sosial dan budaya masyarakat Madura yang dibangun melalui bahasa puitik. Berdasarkan proses interpretasi hermeneutik, konstruksi identitas budaya Madura dalam antologi ini terbentuk melalui empat dimensi utama, yaitu identitas agraris, identitas maritim, identitas tradisional-religius, dan identitas perantauan yang saling berkaitan dalam membangun memori masyarakat kolektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Sangkolan tidak hanya menjadi media ekspresi sastra, tetapi juga menjadi ruang representasi budaya yang merekam pengalaman, nilai, dan identitas masyarakat Madura secara simbolik sehingga menampilkan keterkaitan antara teks sastra dan kehidupan sosial budaya yang melahirkannya.