Pulau Semau merupakan salah satu wilayah kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi energi baru terbarukan cukup besar, khususnya energi surya dan energi angin. Namun, sistem kelistrikan di pulau tersebut masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang memiliki biaya operasional tinggi sehingga penyaluran listrik kepada masyarakat masih dibatasi selama 12 jam per hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa teknis dan keekonomian sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) berbasis PLTS, PLTB, PLTD, dan Battery Energy Storage System (BESS) di Pulau Semau menggunakan perangkat lunak HOMER Pro.Metode penelitian dilakukan dengan memodelkan sistem kelistrikan berdasarkan data profil beban, potensi energi surya, kecepatan angin, spesifikasi pembangkit, serta parameter biaya pembangkitan. Total kebutuhan energi listrik Pulau Semau sebesar 5415 kWh/hari dengan rata-rata beban harian sebesar 225,625 kW dan beban puncak mencapai 1005,38 kW. Penelitian ini membandingkan dua skenario sistem pembangkit hibrid yaitu skenario 1 (PLTS-PLTB-BESS) dan skenario 2 (PLTS-PLTB-PLTDBESS).Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem eksisting berbasis PLTD menghasilkan energi listrik sebesar 2,8 GWh/tahun dengan konsumsi bahan bakar mencapai 843.221 liter/tahun dan nilai Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar 27,02 USD/kWh. Pada skenario 1 diperoleh renewable fraction sebesar 100% dengan nilai unmet electrical load sebesar 50.129 kWh/tahun dan nilai Net Present Cost (NPC) sebesar 26,4 juta USD. Sedangkan pada skenario 2 diperoleh renewable fraction sebesar 98,7% dengan unmet electrical load sebesar 0 kWh/tahun dan nilai NPC sebesar 32,2 juta USD.Berdasarkan hasil analisis, sistem PLTS-PLTB-PLTDBESS dinilai lebih optimal untuk diterapkan di Pulau Semau karena mampu memenuhi kebutuhan energi listrik secara penuh dengan tingkat keandalan sistem yang lebih baik meskipun memiliki nilai NPC sedikit lebih tinggi. Implementasi sistem pembangkit listrik hibrid berbasis energi terbarukan di Pulau Semau diharapkan dapat mendukung percepatan transisi energi serta meningkatkan rasio elektrifikasi pada wilayah kepulauan terpencil di Indonesia.