Markus Adelbert Simanjuntak
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Banalitas Salib dalam Khotbah Modern: Analisis Teologis dan Pastoral Markus Adelbert Simanjuntak
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.447

Abstract

The cross, as the core of Christian theology, undergoes banalization in modern Indonesian sermons, reduced to an emotional rhetorical tool, a guarantee of prosperity, or an individualistic solution, thus losing its eschatological, cosmic, and communitarian dimensions. This qualitative-descriptive study analyzes 37 digital sermon transcripts (2018–2024) from urban churches in Indonesia, employing Paul Ricoeur’s hermeneutics and biblical theology. Findings identify three patterns of banalization: emotionalistic, individualistic, and prosperity-therapeutic, which result in a crisis of church identity, stagnation in discipleship, and prophetic failure. Recovery strategies are proposed through expository-redemptive homiletics, participatory liturgy, and social contextualization, restoring the cross as a transformative force for individuals, the church, and society. This study offers theological and pastoral contributions to revitalizing the meaning of the cross in the context of Indonesian homiletics. AbstrakSalib, sebagai inti teologi Kristen, mengalami banalitas dalam khotbah modern di Indonesia, direduksi menjadi alat retorika emosional, jaminan kemakmuran, atau solusi individualistik, sehingga kehilangan dimensi eskatologis, kosmis, dan komunitarian. Penelitian kualitatif-deskriptif ini menganalisis 37 transkrip khotbah digital (2018–2024) dari gereja urban di Indonesia, menggunakan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur dan teologi biblika. Temuan mengidentifikasi tiga pola banalitas: emosionalistik, individualistik, dan prosperitas-terapeutik, yang berdampak pada krisis identitas gereja, stagnasi pemuridan, dan kegagalan profetis. Strategi pemulihan diusulkan melalui homiletika ekspositori-redemptif, liturgi partisipatif, dan kontekstualisasi sosial, yang mengembalikan salib sebagai kekuatan transformasi individu, gereja, dan masyarakat. Penelitian ini menawarkan kontribusi teologis dan pastoral untuk revitalisasi makna salib dalam konteks homiletika Indonesia. 
Mentoring Multiplikatif sebagai Jawaban Teologis atas Krisis Regenerasi Kepemimpinan: Kajian Eksegesis 2 Timotius 2:2 Markus Adelbert Simanjuntak; Agus Arda Setiawan Telaumbanua
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2026): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - April 2026 (This Issue is Stil
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v6i1.245

Abstract

The leadership regeneration crisis in Indonesian churches cannot be viewed merely as a managerial issue, but rather as a symptom of the fragility of its biblical foundation in understanding leadership transmission as an apostolic mandate. Therefore, through 2 Timothy 2:2, which contains an apostolic blueprint of normative and transgenerational multiplicative mentoring, this study aims to present a comprehensive exegesis of 2 Timothy 2:2 by integrating the approaches of Kaiser and Witherington, formulating a contextual theological model of multiplicative mentoring, and developing practical implications for the Indonesian church. Using Walter C. Kaiser Jr.’s syntactical-theological exegetical method, which includes contextual, syntactical, verbal/lexical, theological, and homiletical analysis, combined with Ben Witherington III’s socio-rhetorical reading to sharpen the historical and rhetorical dimensions, this study offers a robust interpretive framework. The exegetical findings show that the aorist middle imperative parathou in 2 Timothy 2:2 demands a decisive, personal, and responsible act of entrusting the doctrinal deposit, namely the transmission of the depositum fidei to individuals who meet two simultaneous criteria: proven integrity (pistois anthr?pois) and reproductive pedagogical capacity (hikanoi esontai kai heterous didaxai). The four-generation structure (Paul-Timothy-faithful people-others) is demonstrated as an apostolic transmission pattern that is normative in principle but flexible in form. The discussion section affirms that this multiplicative mentoring model provides a conceptual and practical framework for redesigning leadership succession and discipleship systems within traditional denominational churches in Indonesia. The novelty of this study lies in its identification of a multiplicative mentoring pattern in 2 Timothy through the integration of Walter C. Kaiser’s exegetical method and Witherington’s socio-rhetorical framework, offering a response to the leadership regeneration crisis in Indonesian churches.   Abstrak Krisis regenerasi kepemimpinan gereja di Indonesia tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan manajerial melainkan sebagai gejala dari kerapuhan fondasi biblikal dalam memaknai transmisi kepemimpinan sebagai mandat apostolik sehingga melalui 2 Timotius 2:2 yang mengandung blueprint apostolik mengenai mentoring multiplikatif yang bersifat normatif dan lintas zaman kajian ini bertujuan menyajikan eksegesis komprehensif 2 Timotius 2:2 dengan memadukan pendekatan Kaiser dan Witherington, merumuskan model teologis mentoring multiplikatif yang kontekstual dan menyusun implikasi praktis bagi gereja di Indonesia. Melalui metode eksegesis sintaktikal-teologis Walter C. Kaiser Jr. yang meliputi analisis kontekstual, sintaktikal, verbal/leksikal, teologis, dan homiletis dipadukan melalui pembacaan sosio-retorik Ben Witherington III untuk menajamkan dimensi historis dan retoris. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa imperative aorist middle parathou dalam 2 Timotius 2:2 menuntut tindakan penyerahan amanah yang definitif, personal, dan bertanggung jawab, yakni penyerahan depositum doktrin kepada orang-orang yang memenuhi dua kriteria simultan: integritas yang terbukti (pistois anthr?pois) dan kapasitas pedagogis yang reproduktif (hikanoi esontai kai heterous didaxai). Struktur empat generasi (Paulus-Timotius-orang-orang yang dapat dipercaya-orang-orang lain) terbukti sebagai pola transmisi apostolik yang normatif dalam prinsip tetapi fleksibel dalam bentuk. Bagian Discussion menegaskan bahwa model mentoring multiplikatif ini menawarkan kerangka konseptual dan praktis untuk mendesain ulang sistem kaderisasi dan suksesi kepemimpinan gereja denominasi tradisional di Indonesia. Novelty penelitian ini terletak penemuan pola mentoring multiplikatif pada teks 2 Timotius melalui perpaduan metode eksegesis Walter C. Kaiser dengan kerangka sosio-retorik Witherington dalam memberikan jawaban atas krisis regenerasi pemimpin gereja di Indonesia.