The Book of Job presents the story of a righteous man who remains faithful to God amid intense suffering. However, the figure of Job’s wife is often marginalized in biblical interpretation and frequently portrayed negatively. Her statement, “Curse God and die” (Job 2:9), is commonly understood as an expression of unfaithfulness. Yet, the text implicitly reflects her own profound suffering, including the loss of her children, wealth, and future, within the patriarchal context of the Ancient Near East. Existing studies on Job’s wife remain largely dominated by reductive interpretations and rarely consider her as a subject of suffering within a pastoral framework. This gap indicates the need for a more integrative and empathetic approach. This study aims to reinterpret the statement of Job’s wife as part of the broader narrative of suffering. It employs a qualitative library research method using narrative criticism of Job 2:9, combined with Hebrew lexical analysis and feminist and pastoral perspectives. The findings suggest that her statement carries semantic ambiguity, allowing for alternative interpretations beyond a literal curse, including as an expression of existential anguish. Thus, Job’s wife can be understood as a subject who experiences trauma rather than merely a negative figure. This study contributes by integrating biblical, feminist, and pastoral approaches, offering a more empathetic and contextual reading of human suffering. AbstrakKitab Ayub menghadirkan kisah penderitaan seorang tokoh saleh yang tetap setia kepada Allah, namun sosok istri Ayub kerap ditempatkan di pinggiran narasi dan ditafsirkan secara negatif dalam berbagai studi biblika. Ucapannya, “Kutukilah Allahmu dan matilah” (Ayub 2:9), umumnya dipahami sebagai bentuk ketidaksetiaan iman. Sementara itu, teks juga secara implisit merekam penderitaannya yang mendalam, termasuk kehilangan anak, harta, dan masa depan dalam konteks budaya patriarki Timur Dekat Kuno. Hingga kini, kajian terhadap istri Ayub masih didominasi oleh tafsir yang bersifat reduktif dan belum banyak mengembangkan pembacaan yang menempatkannya sebagai subjek penderitaan dalam kerangka pastoral. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih integratif dan empatik. Penelitian ini bertujuan mereinterpretasi ucapan istri Ayub sebagai bagian dari narasi dan seruan penderitaan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan analisis naratif terhadap Ayub 2:9, dipadukan dengan kajian bahasa Ibrani serta perspektif feminis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran tersebut memiliki ambiguitas makna yang memungkinkan pembacaan alternatif sebagai ekspresi penderitaan eksistensial. Dengan demikian, istri Ayub dapat dipahami sebagai subjek yang turut mengalami trauma. Penelitian ini berkontribusi dalam mengintegrasikan pendekatan biblika, feminis, dan pastoral, serta mendorong pembacaan yang lebih empatik dan kontekstual terhadap pengalaman penderitaan manusia.