Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Improving Coding Education with Storytelling Bakisah Bahasa Banjar for Elementary School Teachers M. Saufi; Kamariah Kamariah; Haswinda Harpriyanti
Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 8, No 2 (2026): MAY 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/btjpm.v8i2.17477

Abstract

Limited access to technological infrastructure and low teacher competency in coding instruction remain key challenges in implementing digital literacy in elementary schools in Banjar Regency. These conditions hinder the integration of computational thinking into classroom practices, particularly in schools with minimal digital resources. Therefore, this Community Service Program aimed to enhance teachers’ competencies in teaching coding through a culturally responsive approach as a solution to these challenges. This program adopted a Participatory Action Research (PAR) approach combined with Asset-Based Community Development (ABCD), emphasizing active teacher involvement and the utilization of local cultural assets. The intervention was implemented through three main stages: Unplugged Coding activities, integration of Bakisah Bahasa Banjar storytelling, and Scratch-based digital coding. A total of 22 elementary school teachers from the Ikatan Guru Kelas (IGK) of Banjar Regency participated in the program, followed by four post-training mentoring visits to support sustainable implementation. The results demonstrate significant improvements in three key outcome aspects: (1) increased teacher competency in understanding and applying basic programming concepts, (2) enhanced student learning interest through culturally contextualized coding activities, and (3) successful implementation of culture-based coding practices in classroom settings. In addition, the program established a digital teacher community that supports continuous professional development and sustainability. This program contributes to the development of culturally responsive coding education while promoting the preservation of local wisdom through technology-based learning. It also provides an alternative model for introducing coding in resource-limited educational contexts, fostering students who are both digitally literate and culturally aware.
Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa dalam Pengembangan Media Ajar Berbasis Artificial Intelligence melalui Workshop Deep Learning Bagi Guru MGMP Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di Kabupaten Barito Kuala Kamariah Kamariah; Haswinda Harpriyanti; M. Saufi
ALAINA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): ALAINA : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Cendekia Citra Gemilang Scholar Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/alaina.v3i2.910

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) memberikan peluang besar bagi guru dalam mengembangkan media ajar yang lebih inovatif, adaptif, dan kontekstual. Namun, pemanfaatan AI dalam pembelajaran bahasa masih menghadapi kendala, terutama pada aspek literasi digital, keterampilan teknis, dan kesiapan guru dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru bahasa dalam mengembangkan media ajar berbasis AI melalui workshop deep learning. Sasaran kegiatan adalah 50 guru yang tergabung dalam MGMP Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Kabupaten Barito Kuala. Metode kegiatan dilaksanakan melalui tahapan persiapan, implementasi workshop, evaluasi, dan tindak lanjut. Workshop dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, praktik langsung penggunaan tools AI, proyek mini pengembangan media ajar, presentasi hasil, dan refleksi. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, observasi praktik, dan penilaian produk media ajar. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konseptual guru terhadap AI dan deep learning dari rata-rata 45,6 menjadi 82,9. Keterampilan praktis guru dalam menggunakan tools AI dan mengembangkan media ajar juga meningkat dari rata-rata 44,1 menjadi 81,9. Selain itu, kegiatan ini menghasilkan prototipe media ajar berbasis AI yang dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai konteks pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dengan demikian, workshop deep learning terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi guru bahasa serta mendorong inovasi pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan MGMP.
Estetika Lokal dalam Dunia Digital: Integrasi Sastra Lisan Banjar dalam Digital Storytelling Untuk Generasi Z dan Alpha Kamariah Kamariah
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 16, No 1 (2026): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v16i1.25567

Abstract

Pertumbuhan media digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah cara masyarakat mengakses, memproduksi, dan mewariskan budaya, termasuk tradisi sastra lisan. Sastra lisan Banjar seperti madihin, lamut, bakisah, dan pamali merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kalimantan Selatan, namun keberlanjutannya menghadapi tantangan akibat perubahan gaya hidup dan dominasi konsumsi media digital pada generasi Z dan Alpha yang lebih menyukai konten visual-audio dan format singkat. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakter estetika sastra lisan Banjar serta menelaah bagaimana unsur-unsur tersebut direpresentasikan dalam digital storytelling. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa 58 konten digital dari YouTube, TikTok, dan Instagram Reels (2023–2024), rekaman bakisah, literatur ilmiah, serta wawancara dengan seniman dan pendidik. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi, dan interpretasi tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika sastra Banjar yang meliputi prosodi, ritme terbang, performativitas, humor satir, dan nilai kearifan lokal dapat diadaptasi secara efektif melalui digital storytelling dengan memanfaatkan multimodalitas visual, audio, animasi, dan narasi digital. Integrasi digital storytelling juga selaras dengan Kurikulum Merdeka melalui pembelajaran berbasis proyek dan literasi digital. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan model kurikulum integratif berbasis digital storytelling untuk memperkuat pelestarian budaya Banjar sekaligus meningkatkan kreativitas, literasi digital, dan apresiasi sastra peserta didik.