Dominasi pendekatan normatif dalam teologi Islam sering kali menyebabkan konsep-konsep keagamaan dipahami secara doktrinal dan kurang dikaitkan dengan persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Salah satu konsep yang masih cenderung dipahami secara legalistik adalah amar ma’ruf nahi munkar. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi pemahaman amar ma’ruf nahi munkar sebagai paradigma konseling Islam yang lebih dialogis, persuasif, dan berorientasi pada pemberdayaan individu maupun masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutik-konseptual. Data diperoleh dari literatur teologi Islam, etika profetik, dan kajian konseling sosial, kemudian dianalisis melalui interpretasi kritis dan rekonstruksi konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya dapat dipahami sebagai kewajiban mengoreksi perilaku, tetapi juga sebagai proses pendampingan sosial yang menekankan penguatan kesadaran, pengembangan kapasitas individu, dan pembentukan tanggung jawab sosial. Rekonstruksi ini menghasilkan tiga dimensi utama, yaitu dimensi edukatif melalui pengembangan nilai dan pengetahuan, dimensi persuasif melalui dialog dan komunikasi yang konstruktif, serta dimensi pemberdayaan melalui penguatan kemampuan individu dalam menghadapi persoalan sosial dan moral. Temuan ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar memiliki relevansi sebagai landasan konseptual bagi pengembangan konseling Islam yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat kontemporer. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian teologi Islam dengan menempatkan amar ma’ruf nahi munkar sebagai pendekatan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan edukatif.