Urgensi pelestarian kriya wayang kulit tradisional saat ini diperhadapkan pada tantangan degradasi nilai estetik dan simplifikasi material produksi modern. Penelitian ini bertujuan untuk menguji, mengonstruksi, dan mendokumentasikan kembali pengetahuan artistik tradisional yang terangkum dalam praktik kriya replikasi rupa tokoh Punakawan. Pendekatan pengkajian seni yang digunakan adalah penelitian artistik (artistic research) yang disinergikan dengan metode Practice-Based Research. Melalui metode tersebut, penelitian menempatkan praktik berkarya sebagai instrumen utama produksi pengetahuan baru melalui keterlibatan langsung peneliti pada setiap tahapan pembuatan fisik wayang Petruk gagrak Yogyakarta. Proses penciptaan dieksekusi secara linier dan terstruktur, meliputi tahap persiapan bahan kulit perkamen kerbau, nyorek (pemindahan pola), mbedah (pemotongan siluet kontur), natah keseluruhan isen-isen (pemahatan ragam hias), serta finishing (penghalusan sudut dan pemasangan gegel kulit). Temuan penelitian berbasis praktik ini menunjukkan bahwa seluruh tahapan kerja kriya tradisional terikat kuat oleh kodifikasi leksikon tatahan dan Teori Estetika Sanggit yang mengejawantahkan kepekaan rasa, kecerdasan visual, serta kepatuhan terhadap pakem tradisi. Kontribusi penelitian ini berupa pemetaan empiris mengenai mekanisme kerja teknik mutrani sekaligus produksi pengetahuan baru yang mengendap pada tubuh perajin demi pelestarian rupa wayang kulit Nusantara secara berkelanjutan.