Perkembangan teknologi digital khususnya kecerdasan buatan (AI) memberikan pengaruh signifikan terhadap praktik pembelajaran matematika di sekolah. Pemanfaatan AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi, kualitas interaksi pembelajaran, serta memberikan dukungan pembelajaran yang lebih adaptif sesuai kebutuhan siswa. Namun keberhasilan integrasi AI tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman, dan kesiapan guru dalam menggunakannya. Faktor generasi dan gender juga turut berperan dalam membentuk variasi kemampuan adaptasi guru terhadap teknologi baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons guru SMA se-Kecamatan Kota Masohi terhadap pemanfaatan AI dalam pembelajaran matematika berdasarkan perbedaan generasi. Penelitian ini merupakan penelitian mixed metod melalui angket, wawancara, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian yang dikelompokkan ke dalam Generasi X dan Generasi Y. Analisis dilakukan untuk menilai persepsi, sikap, pengalaman, aksesibilitas, kebutuhan pelatihan, fleksibilitas pembelajaran, serta kesesuaian AI dengan metode mengajar masing-masing subjek. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antar generasi. Guru laki-laki generasi X dan Y menunjukkan respons positif dan mampu mengintegrasikan AI dalam pembelajaran meskipun masih terkendala jaringan dan fitur berbayar. Sebaliknya, guru perempuan generasi X cenderung kurang responsif akibat minimnya pengalaman dan pelatihan. Adapun guru perempuan generasi Y menunjukkan respons sangat positif dan proaktif, meski masih membutuhkan pelatihan lanjutan untuk optimalisasi penggunaan AI. Hasil penelitian ini mengimplikasikan perlunya pelatihan AI yang disesuaikan dengan karakteristik gender dan generasi guru serta penguatan infrastruktur digital sekolah untuk mendukung implementasi pembelajaran matematika berbasis AI yang lebih efektif di Indonesia.