Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi laut-atmosfer di Samudera Hindia yang berpengaruh signifikan terhadap kondisi oseanografi regional. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh fase IOD terhadap karakteristik massa air di Perairan Barat Sumatera menggunakan metode kuantitatif dan deskriptif. Data suhu, salinitas, dan kedalaman diperoleh dari World Ocean Database periode 2019–2024, kemudian dianalisis melalui diagram T-S (Temperature-Salinity) yang dikombinasikan dengan data IOD dan Sea Level Anomaly (SLA) untuk mengidentifikasi fenomena upwelling dan downwelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase positif IOD meningkatkan salinitas dengan karakteristik South Indian Central Water (SICW) sekitar 35,4 psu, disertai upwelling yang ditandai nilai SLA negatif (−0,23 m). Sebaliknya, fase negatif IOD menurunkan salinitas dengan karakteristik Indonesian Upper Water (IUW) sekitar 34,4 psu, disertai downwelling dengan SLA positif (+0,22 m). Berdasarkan diagram T-S, teridentifikasi tujuh massa air, yakni empat pada lapisan upper water: Bengal Bay Water (BBW), Indian Equatorial Water (IEW), Indonesian Upper Water (IUW), dan South Indian Central Water (SICW); serta tiga pada lapisan intermediate water: Antarctic Intermediate Water (AIW), Indonesian Intermediate Water (IIW), dan Red Sea Persian Gulf Intermediate Water (RSPGW). Penelitian ini memberikan pemahaman tentang dinamika massa air yang dipengaruhi variabilitas iklim IOD dan dapat menjadi dasar prediksi kondisi oseanografi, pengelolaan sumber daya kelautan, serta penentuan daerah penangkapan ikan di wilayah tersebut.