Saffina Sajidah
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ETIKA INTERAKSI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN AJNABI SECARA VIRTUAL MENURUT QS. AN-NUR [24]: 30-31 : ANALISIS TAFSIR FĪ ẒILĀL AL-QURʾĀN KARYA SAYYID QUTHB Saffina Sajidah; Muhammad Ali Azmi Nasution
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 11 No 01 (2026): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v11i01.10275

Abstract

Transformasi pola interaksi dari ruang fisik ke ruang virtual menimbulkan persoalan etis baru, terutama dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan ajnabi yang kini berlangsung melalui medium digital. Kerangka etika dalam QS An-Nur [24]: 30-31 yang dirumuskan dalam konteks sosial klasik karenanya memerlukan pembacaan ulang agar tetap relevan dalam realitas kontemporer. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan fokus pada analisis tekstual atas penafsiran Sayyid Quthb dalam Tafsir Fī Ẓilāl al-Qurʾān, menggunakan metode tafsir taḥlīlī dengan corak adabī ijtimāʿī. Hasil penelitian mengidentifikasi enam prinsip etika dalam pembacaan Sayyid Quthb, yaitu pembentukan lingkungan moral kolektif, pencegahan antisipatif, pengendalian kesadaran dan arah perhatian, tanggung jawab moral lintas-gender, ekspansi medan etika ke ranah multi-sensorial, dan integrasi sistemik etika. Keenam prinsip ini menunjukkan elastisitas konseptual yang memungkinkan penerapannya dalam ruang digital melalui kerangka kesetaraan struktur relasional antara interaksi fisik dan virtual. Lebih jauh, penelitian ini mengusulkan reposisi konsep ḥifẓ al-faraj sebagai prinsip pengelolaan batas diri dalam ekosistem digital, melampaui pemaknaan anatomis yang sempit. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan tafsir kontemporer dengan menunjukkan bahwa prinsip etika klasik tetap operasional dalam menghadapi fenomena digital yang tidak dibayangkan sebelumnya. Secara praktis, paradigma yang dirumuskan menawarkan empat area aplikasi prioritas, yaitu konsumsi konten visual, komunikasi privat, presentasi diri, dan engagement parasosial, sebagai panduan etis bagi Muslim dalam berinteraksi di ruang digital