Saifulah Saifulah
Universutas Yudharta Pasuruan, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Manajemen Pendidikan Islam Pesantren Salafiyah Assimachi-Grati dalam Menghadapi Disrupsi Digital Rodiya Rodiya; M. Anang Sholikhudin; Achmad Yusuf; Saifulah Saifulah
Ashlach : Journal of Islamic Education Vol. 4 No. 01 (2026): Ashlach: Journal Of Islamic Education (April)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/ashlach.v4i01.1356

Abstract

Disrupsi digital menghadirkan tantangan serius bagi pesantren salafiyah dalam mempertahankan transmisi keilmuan klasik dan kedisiplinan santri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis strategi pengelolaan pendidikan Islam di Pondok Pesantren Assimachi Grati Pasuruan melalui fungsi manajemen POAC (planning, organizing, actuating, controlling) dalam menjaga ketahanan budaya pesantren di era digital. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap kiai, ustadzah, pengurus keamanan, dan santri, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) fungsi planning diwujudkan melalui kebijakan zero gadget yang bersifat fleksibel-selektif sejak penerimaan santri baru, dengan akses digital terbatas hanya bagi asatidzah dan pengurus untuk kepentingan institusional; (2) fungsi actuating dijalankan melalui jadwal harian terstruktur dan internalisasi nilai muraqabah yang mentransformasi kepatuhan koersif menjadi kesadaran spiritual mandiri; serta (3) fungsi controlling diperkuat melalui inspeksi mendadak, pembatasan komunikasi digital, dan pemanfaatan CCTV dengan dukungan legitimasi karismatik kiai. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pembatasan teknologi yang terencana dan berbasis nilai terbukti efektif sebagai strategi kelembagaan untuk menjaga ekosistem pendidikan salafiyah. Orisinalitas penelitian ini terletak pada konstruksi konseptual Model Ketahanan Budaya Pesantren yang menghubungkan pengawasan fisik, kontrol kelembagaan, dan internalisasi nilai dalam satu kerangka manajerial yang utuh dan dapat direplikasi oleh pesantren salafiyah lainnya
Integrasi Pendidikan Formal dan Pendidikan Non Formal di Pondok Pesantren As-Sholchah, Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan Faizah Maulidiyah; Muhammad Anang Sholikhudin; Achmad Yusuf; Saifulah Saifulah
Ashlach : Journal of Islamic Education Vol. 4 No. 01 (2026): Ashlach: Journal Of Islamic Education (April)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/ashlach.v4i01.1361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan pengasuh pondok pesantren, kepala madrasah, ustadz/ustadzah, pengelola pendidikan nonformal, dan santri sebagai informan penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah dilaksanakan melalui penyelarasan jadwal kegiatan, penguatan nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran formal, serta pembinaan karakter santri melalui berbagai kegiatan kepesantrenan. Pendidikan formal berperan dalam mengembangkan kompetensi akademik santri, sedangkan pendidikan nonformal berfungsi dalam pembentukan akhlak, spiritualitas, dan kedisiplinan. Faktor pendukung integrasi meliputi kepemimpinan kiai, budaya pesantren yang kuat, koordinasi antarlembaga pendidikan, serta kerja sama antara guru dan ustadz. Adapun faktor penghambat meliputi padatnya jadwal kegiatan santri dan perbedaan orientasi antara pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya berlangsung pada aspek kurikulum, tetapi juga pada aspek kelembagaan dan budaya pesantren yang berperan sebagai mekanisme integratif dalam menyatukan seluruh aktivitas pendidikan. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal dapat menjadi model pendidikan Islam yang efektif dalam membentuk lulusan yang memiliki keseimbangan antara kompetensi akademik dan karakter religius.