Albertus Ananda Orlando
Sanata Dharma University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membangun Dialog Antaragama secara Autentik Berdasarkan Pemikiran Masao Abe Reinaldo Patricio Tedja; Albertus Ananda Orlando; Andreas Rahul Pratama; Albert Arysatya Ray Raja
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 4, No 1 (2026): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v4i1.13723

Abstract

Religious intolerance and discrimination remain serious issues in Indonesia, threatening social harmony within its pluralistic society. This reality highlights the urgent need to foster authentic interreligious dialogue as a bridge toward mutual understanding. This study examines the thought of Masao Abe, a Japanese Buddhist philosopher from the Kyoto School, who offers a transformative perspective on interreligious dialogue. Two main questions are formulated: how does Masao Abe understand the nature of interreligious dialogue, and how can his ideas be applied within the context of religious pluralism in Indonesia? Using a qualitative method with a literature study approach, this research analyzes Abe’s key works as well as secondary literature related to interreligious dialogue and pluralism. The findings show that, according to Abe, interreligious dialogue is not merely a formal conversation or religious diplomacy, but a radical inner openness to learn from other traditions by letting go of the claim to absolute truth. Genuine dialogue requires the willingness to transcend doctrinal boundaries in the search for a shared truth that recognizes the universal dimensions of humanity and divinity. In the Indonesian context, Abe’s thought can be implemented through multicultural education that emphasizes deep understanding of other religious traditions, the establishment of sustainable interfaith forums, and the cultivation of epistemological humility in embracing diversity. This study concludes that Masao Abe’s model of interreligious dialogue can serve as a strong foundation for fostering harmony, reducing intolerance, and strengthening social cohesion amid Indonesia’s plural society.AbstrakIntoleransi dan diskriminasi berbasis agama masih menjadi persoalan serius di Indonesia, yang mengancam harmoni sosial dalam masyarakat yang majemuk. Realitas ini menunjukkan urgensi membangun dialog antaragama yang autentik untuk menemukan jembatan hidup saling memahami. Penelitian ini mengkaji pemikiran Masao Abe, filsuf Buddhis Jepang dari Sekolah Kyoto, yang menawarkan perspektif transformatif tentang dialog antaragama. Dua pertanyaan utama yang dirumuskan adalah: bagaimana Masao Abe memahami hakikat dialog antaragama, dan bagaimana pemikirannya dapat diaplikasikan dalam konteks pluralisme agama di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, penelitian ini menelaah karya-karya utama Masao Abe serta literatur sekunder terkait dialog antaragama dan pluralisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Abe, dialog antaragama bukan sekadar percakapan formal atau diplomasi keagamaan, melainkan keterbukaan batin yang radikal untuk belajar dari tradisi lain dengan melepaskan klaim absolutisme kebenaran. Dialog sejati menuntut kesediaan untuk melampaui batas-batas doktrin demi pencarian kebenaran bersama yang mengakui dimensi kemanusiaan dan keilahian secara universal. Dalam konteks Indonesia, pemikiran Abe dapat diimplementasikan melalui pendidikan multikultural yang menekankan pemahaman mendalam terhadap tradisi keagamaan lain, pembentukan forum lintas iman yang berkelanjutan, serta pengembangan sikap kerendahan hati epistemologis dalam menerima keragaman. Penelitian ini menegaskan bahwa dialog antaragama model Masao Abe dapat menjadi landasan kokoh untuk membangun kerukunan, mengikis intoleransi, dan memperkuat kohesi sosial di tengah pluralitas masyarakat Indonesia.
Kajian Paham Ketuhanan terhadap Pemeluk Agama Katolik sekaligus Penganut Aliran Sapta Darma di Yogyakarta Valentinus Cahyo Sindoro; Albertus Ananda Orlando
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 2 (2026): Divinitas July
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i2.13412

Abstract

This study discusses the phenomenon of Catholics in Yogyakarta who simultaneously adhere to the Sapta Darma belief system. Using a qualitative approach through literature review and interviews, this study aims to understand how dual adherents interpret divinity within two distinct belief systems. The findings reveal that despite differences in doctrinal structure and spiritual expression, adherents like Servas are able to harmonize both without experiencing religious conflict. The teachings of Sapta Darma are seen as complementing Catholic religious practices, emphasizing inner harmony and personal closeness to God. The Catholic Church, through the documents of the Second Vatican Council, has opened space for dialogue and inculturation of local values as long as they do not contradict dogma. This study underscores the importance of a contextual theological approach and dialogical pastoral care in responding to the spiritual pluralism of Indonesian Catholics.AbstrakPenelitian ini membahas fenomena umat Katolik di Yogyakarta yang secara bersamaan menganut aliran kepercayaan Sapta Darma. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana para “penganut ganda” memaknai ketuhanan dalam dua sistem kepercayaan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan kendati terdapat perbedaan dalam struktur ajaran dan ekspresi spiritual, narasumber dan informan mampu menyelaraskan keduanya tanpa konflik iman. Ajaran Sapta Darma dianggap melengkapi praktik religius Katolik dengan penekanan pada keselarasan batin dan kedekatan personal dengan Tuhan. Gereja Katolik, melalui dokumen Konsili Vatikan II, membuka ruang dialog dan inkulturasi terhadap nilai-nilai lokal asalkan tidak bertentangan dengan dogma. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan teologi kontekstual dan pastoral dialogis dalam memproses pluralitas umat Katolik Indonesia.