This study discusses the phenomenon of Catholics in Yogyakarta who simultaneously adhere to the Sapta Darma belief system. Using a qualitative approach through literature review and interviews, this study aims to understand how dual adherents interpret divinity within two distinct belief systems. The findings reveal that despite differences in doctrinal structure and spiritual expression, adherents like Servas are able to harmonize both without experiencing religious conflict. The teachings of Sapta Darma are seen as complementing Catholic religious practices, emphasizing inner harmony and personal closeness to God. The Catholic Church, through the documents of the Second Vatican Council, has opened space for dialogue and inculturation of local values as long as they do not contradict dogma. This study underscores the importance of a contextual theological approach and dialogical pastoral care in responding to the spiritual pluralism of Indonesian Catholics.AbstrakPenelitian ini membahas fenomena umat Katolik di Yogyakarta yang secara bersamaan menganut aliran kepercayaan Sapta Darma. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana para “penganut ganda” memaknai ketuhanan dalam dua sistem kepercayaan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan kendati terdapat perbedaan dalam struktur ajaran dan ekspresi spiritual, narasumber dan informan mampu menyelaraskan keduanya tanpa konflik iman. Ajaran Sapta Darma dianggap melengkapi praktik religius Katolik dengan penekanan pada keselarasan batin dan kedekatan personal dengan Tuhan. Gereja Katolik, melalui dokumen Konsili Vatikan II, membuka ruang dialog dan inkulturasi terhadap nilai-nilai lokal asalkan tidak bertentangan dengan dogma. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan teologi kontekstual dan pastoral dialogis dalam memproses pluralitas umat Katolik Indonesia.
Copyrights © 2026