Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EFEKTIVITAS VIRGIN COCONUT OIL SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA TIKUS WISTAR SETELAH DI INDUKSI ISONIAZID DAN RIFAMPISIN Eka Syafitri; Aminah Dalimunthe; Jansen Silalahi
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 12, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v12i1.5848

Abstract

Gangguan fungsi hati berkaitan erat dengan kerusakan hati. Hati rentan mengalami kerusakan karena terpapar bahan-bahan yang bersifat toksik. Rifampisin dan isoniazid merupakan obat anti tuberkulosis lini pertama namun juga merupakan senyawa hepatotoksik yang paling potensial. Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki senyawa antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas. Antioksidan yang terkadung dalam Virgin Coconut Oil dapat berfungsi sebagai hepatoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek hepatoprotektif dari Virgin Coconut Oil pada tikus yang diinduksi isoniazid dan rifampisin. Penelitian ini menggunakan 25 tikus Rattus Norvegicus yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu : kontrol normal hanya diberi aquadest, kontrol positif diberi Curcuma Force 3,6 mg/KgBB/hari setelah 1 jam dilanjutkan dengan pemberian isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari, kontrol negatif diberi isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari, kelompok perlakuan 1 diberi VCO 1 ml/KgBB/hari setelah 1 jam dilanjutkan dengan pemberian isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari, dan perlakuan 2 diberi VCO 3 ml/KgBB/hari setelah 1 jam, dilanjutkan dengan pemberian isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari. Perlakuan dilakukan setiap hari selama 14 hari, selanjutnya dilakukan pembedahan dan pengambilan darah. Sampel darah untuk pemeriksaan biomarker kerusakan hati (TB, ALT, AST). Data dianalisis memakai one way-ANOVA lalu memakai Post Hoc Turkey HSD. Hasil penelitian menunjukkan perubahan nilai ALT, AST dan total bilirubin pada hewan uji menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik (p
EFEKTIVITAS VIRGIN COCONUT OIL SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA TIKUS WISTAR SETELAH DI INDUKSI ISONIAZID DAN RIFAMPISIN Eka Syafitri; Aminah Dalimunthe; Jansen Silalahi
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol. 12 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v12i1.5848

Abstract

Gangguan fungsi hati berkaitan erat dengan kerusakan hati. Hati rentan mengalami kerusakan karena terpapar bahan-bahan yang bersifat toksik. Rifampisin dan isoniazid merupakan obat anti tuberkulosis lini pertama namun juga merupakan senyawa hepatotoksik yang paling potensial. Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki senyawa antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas. Antioksidan yang terkadung dalam Virgin Coconut Oil dapat berfungsi sebagai hepatoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek hepatoprotektif dari Virgin Coconut Oil pada tikus yang diinduksi isoniazid dan rifampisin. Penelitian ini menggunakan 25 tikus Rattus Norvegicus yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu : kontrol normal hanya diberi aquadest, kontrol positif diberi Curcuma Force 3,6 mg/KgBB/hari setelah 1 jam dilanjutkan dengan pemberian isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari, kontrol negatif diberi isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari, kelompok perlakuan 1 diberi VCO 1 ml/KgBB/hari setelah 1 jam dilanjutkan dengan pemberian isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari, dan perlakuan 2 diberi VCO 3 ml/KgBB/hari setelah 1 jam, dilanjutkan dengan pemberian isoniazid 100 mg/KgBB/hari dan rifampisin 100 mg/KgBB/hari. Perlakuan dilakukan setiap hari selama 14 hari, selanjutnya dilakukan pembedahan dan pengambilan darah. Sampel darah untuk pemeriksaan biomarker kerusakan hati (TB, ALT, AST). Data dianalisis memakai one way-ANOVA lalu memakai Post Hoc Turkey HSD. Hasil penelitian menunjukkan perubahan nilai ALT, AST dan total bilirubin pada hewan uji menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik (p
Formulasi Tablet Effervescent Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) sebagai Pemenuhan Nutrisi untuk Pencegahan Stunting Elpa Giovana Zola; Eka Syafitri; Rahmadevi Rahmadevi; Dea Ayu Agustina
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i1.1239

Abstract

Stunting remains a significant nutritional problem in Indonesia, requiring practical and acceptable nutritional interventions. Moringa oleifera L. leaves are known to contain essential minerals such as zinc, iron, and iodine, which play an important role in supporting optimal growth. This study aimed to formulate effervescent tablets of Moringa leaf extract and evaluate their physical quality as an alternative nutritional supplement for stunting prevention. Moringa leaf extract was obtained through maceration and formulated into four effervescent tablet formulas with varying extract concentrations. The evaluations included granule flow properties, angle of repose, pH, size uniformity, weight uniformity, dispersion time, FTIR analysis, and hedonic testing. The results showed that all formulas met the physical quality requirements of effervescent tablets. The granules exhibited good flow characteristics with an angle of repose below 40°, while the tablet pH values ranged from 4,4 -5,8, indicating suitability for oral administration. All formulas complied with the standards for size and weight uniformity, and the dispersion time ranged from 1 to 2 minutes. FTIR analysis confirmed the presence of hydroxyl, carbonyl, nitroso, and benzene functional groups associated with flavonoids, saponins, and tannins, which contribute beneficial mineral content. Based on physical and organoleptic evaluations, Formula 2 showed the best combination of extract content and granule flow properties, while Formula 1 was the most preferred in terms of taste.