ABSTRACT Non-facility based childbirth remains a maternal health problem, particularly in rural areas. Delivery outside health facilities increases the risk of maternal and neonatal morbidity and mortality due to limited access to skilled health personnel and adequate obstetric services. This study aimed to analyze the determinants influencing non-facility based childbirth among mothers in the working area of UPT Salbait Primary Health Center, Timor Tengah Selatan Regency. This study employed a quantitative case-control design. The study population consisted of all mothers who delivered in the working area of UPT Salbait Primary Health Center, with a total sample of 80 respondents, including 40 cases (non-facility based delivery) and 40 controls (facility based delivery). The variables studied included maternal knowledge, distance to health facilities, economic status, antenatal care (ANC) visits, participation in maternity classes, and parity. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed significant associations between maternal knowledge and non-facility-based childbirth (p = 0.000), distance to health facilities (p = 0.000), economic status (p = 0.011), ANC visits (p = 0.000), participation in maternity classes (p = 0.000), and parity (p = 0.000). Mothers with low knowledge, long distance to health facilities, low economic status, incomplete ANC visits, non-participation in maternity classes, and high parity were more likely to choose non-facility based delivery. In conclusion, non-facility based childbirth is influenced by predisposing, enabling, and need factors. Strengthening maternal health education, improving antenatal care services, and optimizing maternity class programs are necessary to promote facility based delivery. Keywords: Antenatal Care, Health Facilities, Maternal Knowledge, Non-Facility-Based Childbirth. ABSTRAK Persalinan yang dilakukan di luar fasilitas kesehatan masih menjadi permasalahan kesehatan ibu, khususnya di wilayah pedesaan. Persalinan non fasilitas kesehatan berisiko meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi akibat keterbatasan akses terhadap tenaga kesehatan terlatih dan pelayanan obstetri yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan yang memengaruhi persalinan non fasilitas kesehatan pada ibu di wilayah kerja UPT Puskesmas Salbait Kabupaten Timor Tengah Selatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan case control. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang melahirkan di wilayah kerja UPT Puskesmas Salbait dengan jumlah sampel sebanyak 80 responden, terdiri dari 40 responden kelompok kasus (persalinan non fasilitas kesehatan) dan 40 responden kelompok kontrol (persalinan di fasilitas kesehatan). Variabel yang diteliti meliputi tingkat pengetahuan, jarak ke fasilitas kesehatan, kemampuan ekonomi, kunjungan antenatal care (ANC), keikutsertaan kelas ibu hamil, dan jumlah paritas. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persalinan non fasilitas kesehatan (p = 0,000), jarak ke fasilitas kesehatan (p = 0,000), kemampuan ekonomi (p = 0,011), kunjungan ANC (p = 0,000), keikutsertaan kelas ibu hamil (p = 0,000), serta jumlah paritas (p = 0,000). Ibu dengan pengetahuan rendah, jarak tempat tinggal jauh, kemampuan ekonomi rendah, kunjungan ANC tidak lengkap, tidak mengikuti kelas ibu hamil, dan paritas tinggi cenderung memilih persalinan di non fasilitas kesehatan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa persalinan non fasilitas kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor kebutuhan. Diperlukan upaya peningkatan edukasi kesehatan ibu, penguatan layanan antenatal care, serta optimalisasi program kelas ibu hamil untuk mendorong persalinan di fasilitas kesehatan. Kata Kunci: Antenatal Care, Fasilitas Kesehatan, Persalinan Non Fasilitas Kesehatan, Pengetahuan Ibu.