Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sejarah Partai Gerakan Indonesia Raya dan Pengaruh Politiknya pada Pemilu Presiden 2019 Audrey G.D Tangkudung; Fajar Kurniawan
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i5.64496

Abstract

Kemunculan partai-partai politik baru di Indonesia pascareformasi telah secara signifikan mengubah dinamika kompetisi demokrasi, di mana Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menonjol sebagai aktor penting meskipun tergolong partai yang relatif baru didirikan pada tahun 2008. Artikel ini menelaah secara mendalam proses lahirnya serta dinamika pertumbuhan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sekaligus menelusuri kontribusi dan dampak kekuatan politiknya pada kontestasi Pemilihan Presiden Indonesia tahun 2019. Kajian ini menerapkan perspektif kualitatif dalam ranah sejarah dan politik dengan teknik pengumpulan data melalui telaah literatur, pengkajian arsip resmi organisasi, regulasi pemilihan umum, laporan pers nasional, dan berbagai publikasi akademik yang relevan. Kerangka teoretis yang digunakan meliputi teori institusional partai politik, teori kepemimpinan karismatik, dan teori koalisi elektoral. Hasil kajian menunjukkan bahwa Gerindra sebagai partai politik relatif baru mampu berkembang pesat melalui penguatan struktur organisasi, sentralitas figur kepemimpinan, dan strategi koalisi elektoral yang adaptif. Dalam konteks Pilpres 2019, Gerindra memainkan peran signifikan dalam membentuk oposisi politik dan memengaruhi dinamika kompetisi demokratis di Indonesia. Temuan ini memperkaya kajian tentang peran partai oposisi dan kepemimpinan karismatik dalam demokrasi elektoral Indonesia.
From Revolutionary Fighter to Urban Social Bandit: Kusni Kasdut and the Crisis of State Legitimacy in Indonesia (1945–1980) Fajar Kurniawan; Tuty Nur Mutia E. Muas; Dwi Mulyatari
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 3 (2026): August
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i3.2836

Abstract

This article examines the phenomenon of post-independence urban criminality in Indonesia through a case study of Kusni Kasdut (1925–1980), a former revolutionary fighter who later transformed into an “urban social bandit” in Jakarta during the 1950s–1970s. Drawing upon a social history approach that integrates the theories of social banditry (Hobsbawm), moral economy (Thompson), and living law (Ehrlich), this study analyzes how structural factors—such as economic inequality, rapid urbanization, and the marginalization of former combatants—created conditions conducive to the emergence of criminal figures endowed with a degree of social legitimacy. The analysis of police archives, mass media reports, and oral testimonies reveals a significant discrepancy between the official state narrative, which stigmatized Kusni as a dangerous criminal, and the perception among the urban poor, who regarded him as a protector and a symbol of resistance against injustice. The findings demonstrate that the case of Kusni Kasdut reflects a broader crisis of state legitimacy in the post-colonial period, characterized by the state’s inability to accommodate the aspirations of lower social strata and former revolutionary actors within formal legal structures. This study contributes theoretically by extending the concept of social banditry into a post-colonial urban context and offers a deeper understanding of state–society relations in modern Indonesian history.