Kartini Dwi Sartika
LSPR Institute of Communication and Business

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Citra Publik dan Otherness dalam Short Film Ghosts Karya Michael Jackson Zhafran Tsany Yudizon; Kartini Dwi Sartika; Sri Ulya Suskarwati
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/9s2w5h78

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi citra publik dan konstruksi “keberlainan” (otherness) dalam film pendek Ghosts (1996) karya Michael Jackson yang disutradarai oleh Stan Winston sebagai teks komunikasi yang merefleksikan stigma media dan politik identitas selebritas. Berlandaskan teori semiotika Roland Barthes serta didukung teori representasi, pembingkaian media (media framing), dan komunikasi stigma, penelitian ini berhipotesis bahwa Ghosts berfungsi sebagai bentuk resistensi simbolik terhadap narasi publik negatif yang mengelilingi Jackson pada era 1990-an. Penelitian menggunakan pendekatan komunikasi kualitatif dengan menerapkan tiga tingkat makna Barthes—denotasi, konotasi, dan mitos—untuk menganalisis tanda visual, dialog, dan struktur naratif dalam adegan terpilih. Analisis difokuskan pada simbol komunikasi yang membangun “keberlainan,” merepresentasikan eksklusi sosial, dan menantang representasi dominan media. Temuan menunjukkan bahwa Ghosts membalik relasi kuasa dominan dengan menggambarkan sosok yang distigmatisasi sebagai pribadi kreatif, kuat, dan secara moral lebih unggul dibanding komunitas “Normal Valley” yang penuh prasangka. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat arus utama membangun batas antara yang “normal” dan “menyimpang,” sementara mitos tentang ketakutan, abnormalitas, dan eksklusi dikonstruksi sekaligus didekonstruksi melalui simbol sinematik. Kesimpulan: studi ini, Ghosts berfungsi sebagai ekspresi artistik sekaligus strategi komunikasi yang menantang stigma, merekonstruksi identitas selebritas, dan menyoroti peran budaya populer dalam membentuk ulang wacana publik.