Ifdil Ifdil
Departement of Guidance and Counseling, Faculty of Education, Universitas Negeri Padang, Padang - West Sumatera - Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Fenomena skin picking disorder pada mahasiswa: analisis tingkat keparahan dan determinan demografis di perguruan tinggi indonesia Huriyah Fadhilah; Ifdil Ifdil; Annisaislami Khairati
Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1202626963

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat Skin Picking pada mahasiswa aktif di perguruan tinggi Indonesia berdasarkan jenis kelamin, usia, tingkat semester. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dan teknik purposive sampling, penelitian ini melibatkan 182 mahasiswa aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa berada pada kategori rendah dan sangat rendah. Meskipun temuan dalam penelitian ini menunjukkan tingkat Skin Picking pada mahasiswa Indonesia umumnya rendah, keberadaan mahasiswa dengan kategori sedang hingga tinggi menegaskan perlunya deteksi dini serta peningkatan literasi kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi
Perilaku onychophagia pada anak sekolah dasar: berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, dan urutan kelahiran Dilfa Safriani; Ifdil Ifdil; Annisaislami Khairati
Education and Social Sciences Review Vol. 7 No. 1 (2026): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr688000

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku Onychophagia pada anak sekolah dasar berdasarkan faktor demografis  yaitu usia, jenis kelamin dan urutan kelahiran. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 388 siswa sekolah dasar di wilayah Sumatera yang dipilih menggunakan  teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak berada pada kategori tidak pernah melakukan onychophagia, namun masih terdapat anak yang kadang-kadang hingga yang selalu melakukan perilaku tersebut. Berdasarkan usia, anak usia lebih muda, khususnya usia 9 tahun, menunjukkan kecendrungan lebih tinggi dalam melakukan perilaku menggigit kuku. Berdasarkan jenis kelamin, anak laki-laki memiliki tingkat onychophagia yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sementara itu berdasarkan urutan kelahiran, anak dengan urutan kelahiran terakhir menunjukkan kecendrungan lebih tinggi, meskipun temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena keterbatasan jumlah sampel. Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan gambaran empiris mengenai karakteristik Onychophagia pada anak sekolah dasar yang selanjutnya dapat dimanfaatkan.
Gambaran meaning of life pada siswa pascabencana hidrometeorologi: studi kuantitatif deskriptif Madelna Jenike; Ifdil Ifdil; Annisaislami Khairati
Education and Social Sciences Review Vol. 7 No. 1 (2026): Education and Social Sciences Review
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/07essr692400

Abstract

Bencana alam Hidrometeorologi yang melanda lingkungan sekolah tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik dan terhentinya proses belajar mengajar, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis serta cara memaknai hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna hidup yang muncul dalam konteks bencana yang melanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif deskriptif melalui pengalaman siswa pada masa pascabencana dan sampel penelitian berjumlah 317 orang siswa SMA terdiri dari kelas X, XI dan XII. Data dikumpulkan menggunakan subskala Meaning in Life Questionare (MLQ) yang dikembangkan oleh Steger yang mengukur makna hidup melalui dua dimensi yaitu Presence of Meaning (kehadiran makna hidup) dan Search for Meaning (pencarian makna hidup). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa Sebagian besar siswa berada pada kategori cukup sesuai (31%), diikiti kategori tidak sesuai (26%) dan sesuai (20%). Berdasarkan analisis deskriptif, hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rata-rata (mean) pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pada anak perempuan. Secara rinci, dianalisis bahwa (mean) anak laki-laki mencapai 15,08, sedangkan mean anak perempuan hanya 13,48. Hasil kajian menunjukkan bahwa bencana alam dapat menjadi momentum bagi warga sekolah untuk membangun makna hidup melalui sikap saling peduli, penerimaan terhadap kondisi yang tidak dapat dihindari, serta penguatan tujuan hidup yang berorientasi pada keberlanjutan pendidikan. Penelitian ini memberikan wawasan berharga bagi peneliti dalam memahami peran dan pengaruh makna hidup siswa.
Profil alexithymia mahasiswa ditinjau dari jenis kelamin dan usia Yohanes Yohanes; Ifdil Ifdil; Annisaislami Khairati
Lentera Negeri Vol. 7 No. 1 (2026): Lentera Negeri
Publisher : Indonesian Institute For Counseling, Education and Therapy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/991950

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alexithymia pada mahasiswa berdasarkan usia dan jenis kelamin. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini melibatkan 309 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di indonesia yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala alexithymia yang terdiri dari dimensi Kesulitan mengidentifikasi perasaan atau Difficulty Identifying Feelings (DIF), Kesulitan mendeskripsikan perasaan atau Difficulty Describing Feelings (DDF), dan berpikir berorientasi eksternal atau Externally-Oriented thingking (EOT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa laki-laki memiliki rata-rata skor alexithymia lebih tinggi dibandingkan mahasiswa perempuan. Selain itu, berdasarkan usia, kelompok mahasiswa berusia 21-24 tahun menunjukkan kecenderungan skor alexithymia yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 17-20 tahun. Temuan ini mengindikasikan adanya variasi tingkat alexithymia berdasarkan karakteristik demografis mahasiswa, sehingga layanan konseling di perguruan tinggi perlu diarahkan pada penguatan literasi emosional mahasiswa.
Gambaran emotional eating pada remaja Indonesia: studi cross-sectional berdasarkan karakteristik demografis Anggi Silvia Ningsih; Ifdil Ifdil; Annisaislami Khairati
Journal of Counseling, Education and Society Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Counseling, Education and Society
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/08jces681700

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kecenderungan emotional eating behavior pada remaja berdasarkan jenis kelamin, usia, dan urutan kelahiran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 806 remaja berusia 12-19 tahun yang diperoleh melalui teknik voluntary response sampling. Data dikumpulkan menggunakan subskala emotional eating dari Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar remaja berada pada kategori jarang (38%), diikuti kategori terkadang (30%) dan tidak pernah (21%). Secara deskriptif, terdapat variasi skor rata-rata emotional eating berdasarkan jenis kelamin, usia, dan urutan kelahiran. Remaja laki-laki memiliki rata-rata skor sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan, dan remaja usia 12-15 tahun menunjukkan rata-rata lebih tinggi dibandingkan usia 16-19 tahun. Namun demikian, perbedaan tersebut belum diuji menggunakan analisis statistik inferensial sehingga tidak dapat disimpulkan sebagai perbedaan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan adanya variasi kecenderungan emotional eating pada remaja berdasarkan karakteristik demografis. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih kuat untuk menguji hubungan antar variabel secara lebih mendalam
Academic civility of students: profil berdasarkan jenis kelamin, usia, dan urutan kelahiran Febriana Heriyani; Ifdil Ifdil; Annisaislami Khairati
Journal of Counseling, Education and Society Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Counseling, Education and Society
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/08jces682000

Abstract

Academic civility merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, inklusif, dan mendukung hubungan interpersonal di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat academic civility mahasiswa berdasarkan usia, jenis kelamin, dan urutan kelahiran. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sampel 278 mahasiswa aktif dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Komposisi responden didominasi oleh perempuan (n=231; 83,1%) dibandingkan dengan laki-laki (n=47; 16,9%). Data dikumpulkan menggunakan instrumen Incivility in Higher Education-Revised (IHE-R) dengan skala Likert 4 poin yang memiliki reliabilitas Cronbach’s Alpha > 0,70. Hasil analisis deskriptif menunjukkan skor academic civility mahasiswa berada pada kategori sedang hingga tinggi dengan rata-rata total berada pada rentang 103,0–107,5 dan standar deviasi 13,63–14,67. Secara deskriptif, mahasiswa perempuan menunjukkan skor civility sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, sedangkan variasi berdasarkan usia dan urutan kelahiran relatif kecil. Seluruh perbedaan antar kelompok dalam penelitian ini bersifat deskriptif dan tidak diuji menggunakan analisis inferensial. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ketidakseimbangan komposisi gender dan penggunaan sampel nonprobabilitas.