Dewanti, Virginnia Kusuma
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Transformasi Tradisi Sembogo pada Tata Rias Pengantin Jawa: Studi Kasus Komunitas Rias Paes Ayu Surakarta Dewanti, Virginnia Kusuma; Pujihartati, Sri Hilmi
Journal of Development and Social Change Vol 8, No 2 (2025): Volume 8, No.2 (October 2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jodasc.v8i2.100533

Abstract

Tradisi sembogo merupakan salah satu prosesi dalam tata rias pengantin adat Jawa yang dilakukan oleh perias sembogo dengan meniupkan asap rokok ke bagian tertentu pada pengantin. Ritual ini dipercaya dapat memancarkan aura kecantikan dan memberikan keberkahan bagi pernikahan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sembogo mengalami transformasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan yang terjadi pada tradisi sembogo, faktor-faktor yang menyebabkan transformasi, serta dampaknya terhadap tata rias pengantin Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus Komunitas Rias Paes Ayu di Surakarta. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sembogo mengalami pergeseran dari praktik tata rias pengantin Jawa menjadi wacana budaya yang lebih sering diajarkan dalam seminar atau kursus rias dibandingkan dipraktikkan langsung dalam pernikahan. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi transformasi ini meliputi perubahan pola pikir terhadap konsep kecantikan, pergeseran gaya hidup yang lebih efisien, meningkatnya religiusitas, pengaruh globalisasi dan media sosial, serta perubahan lingkungan sosial yang semakin modern. Dampaknya, praktik sembogo semakin jarang dilakukan dalam pernikahan adat Jawa, profesi perias sembogo beralih lebih kepada edukasi dan pelestarian budaya, serta tata rias pengantin lebih banyak mengadopsi tren riasan modern tanpa ritual adat. Transformasi ini menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa sepenuhnya kehilangan makna simboliknya.