Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Representasi Masyarakat Madura Dalam Lagu-Lagu Lorjhu’ Irmalia Putri; Raida Hafidati; Bilqis Mulaika; Ria Kasanova
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.815

Abstract

Penelitian ini membahas representasi masyarakat Madura dalam lagu Asapok Angin dan Nemor karya Lorjhu’. Penelitian dilakukan karena lagu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media representasi budaya dan identitas sosial masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk representasi kehidupan maritim, kondisi geografis, serta mata pencaharian masyarakat Madura yang terdapat dalam kedua lagu tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan cultural studies dan teori representasi Stuart Hall. Sumber data penelitian berupa lirik lagu Asapok Angin dan Nemor, sedangkan data pendukung diperoleh dari jurnal, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak, catat, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi simbol, bahasa, dan makna budaya yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Madura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu Asapok Angin merepresentasikan kehidupan maritim masyarakat Madura melalui simbol laut, angin, dan kerinduan pelaut terhadap keluarga di daratan. Sementara itu, lagu Nemor merepresentasikan hubungan masyarakat Madura dengan musim kemarau, pertanian tembakau, dan kehidupan nelayan pesisir. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lagu-lagu Lorjhu’ menjadi media representasi identitas budaya masyarakat Madura yang tangguh, sederhana, pekerja keras, dan memiliki hubungan kuat dengan lingkungan alamnya.
Kekerasan Simbolik dan Resistensi Kelas dalam Tiang Garam Karya Royyan Julian: Kajian Sosiologi Sastra Habiburrahman Habiburrahman; Irmalia Putri; Aisah Juli Yanti; Rico Rafly Maulana; Siti Yuliana; Anisa Fajriana Oktasari
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1488

Abstract

Pergeseran nilai kebudayaan lokal akibat penetrasi kapitalisme agraris sering kali melahirkan ketimpangan struktur kelas dan subordinasi gender yang masif di pedesaan. Artikel ini bertujuan untuk mengurai konstelasi ranah sosial (arena), formasi habitus tokoh utama (Kana), dan mekanisme pertarungan modal (ekonomi, kultural, sosial, dan simbolik) di Dusun Kotasek, sebagaimana direpresentasikan dalam novel Tiang Garam karya Royyan Julian. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra berbasis strukturalisme konstruktif Pierre Bourdieu, analisis difokuskan pada teks novel sebagai data primer yang dibedah melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, dominasi kelas borjuis lokal yang direpresentasikan oleh tokoh Haji Badawi ditopang oleh penguasaan mutlak atas sarana ekonomi dan manipulasi modal simbolik. Eksploitasi ini mereduksi nilai sakral masyarakat Madura, khususnya tanah sangkol (tanah warisan leluhur), menjadi komoditas pasar melalui rekayasa gaya hidup yang menipu kesadaran kelas bawah. Kedua, tokoh Kana merepresentasikan resistensi keagenan subaltern yang dinamis. Ia bertransformasi dari objek kekerasan simbolik yang teralienasi oleh stigma infertilitas patriarkal menjadi subjek rasional yang berdaya. Dengan mengakumulasi modal kultural dan ekonomi baru di luar ranah asalnya, Kana meruntuhkan hegemoni struktur dan merekonversi modalnya untuk melawan dominasi kelas penguasa lokal. Kajian ini menyimpulkan bahwa takdir sosiologis dan subordinasi perempuan di bawah bayang-bayang kuasa patriarki-kapitalistik bukanlah suatu entitas yang statis, melainkan arena yang dapat diretas melalui mobilitas spasial dan kebangkitan kesadaran kritis.