Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peningkatan Keterampilan Wawancara Kontekstual Melalui Interaksi Siswa Dan Google Gemini Di SMP Negeri 1 Tlanakan Habiburrahman Habiburrahman; Rofi’ati Nur Diana Islam; Nadia Fitri; Halilatur Rohemah
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.876

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif dan mendalam mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), secara spesifik menggunakan platform Google Gemini, sebagai instrumen pewawancara simulatif guna melatih dan meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa SMP kelas 9. Mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, studi ini melibatkan 30 siswa dan satu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Tlanakan. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen yang holistik, mencakup pre-test kognitif, observasi terstruktur terhadap delapan indikator kinerja berbicara, angket persepsi siswa (terbuka dan tertutup), serta wawancara mendalam dengan pendidik untuk memetakan realitas sosiologis kelas. Hasil analisis data menunjukkan integrasi Google Gemini secara signifikan mampu mereduksi speaking anxiety atau rasa gugup siswa, sekaligus mengakselerasi minat dan motivasi belajar melalui interaksi mesin dengan manusia yang tidak menghakimi. Penggunaan tema kontekstual lokal, yakni isu kebersihan Pantai Desa Branta Pesisir, terbukti relevan dalam mendekatkan materi pembelajaran dengan realitas kehidupan siswa yang didominasi oleh latar belakang keluarga nelayan dan pekerja pasar. Simpulan dari riset ini menegaskan bahwa penggunaan AI berdampak krusial terhadap dinamika kelas. AI tidak sekadar berfungsi sebagai alat bantu teknis, melainkan bertindak sebagai katalisator yang berhasil "membangunkan" siswa dari demotivasi, memfasilitasi tutor sebaya dalam kelompok heterogen, dan memberikan solusi taktis atas keterbatasan fasilitas fisik sekolah akibat isu keamanan. Inovasi ini meredefinisi paradigma pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih partisipatif, interaktif, dan berpusat pada siswa.
Semantic Analysis Of Islamic Diction In Contemporary Prophetic Literature As A Basis For Extraction Of Indonesian Teaching Materials In The Independent Curriculum Habiburrahman Habiburrahman; Masri’ah Masri’ah; Laili Amalia
Molang: Journal Islamic Education Vol. 4 No. 2 (2026): Molang: Journal Islamic Education
Publisher : LP2M IAI AL-KHAIRAT PAMEKASSAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jm.v4i2.1970

Abstract

The withdrawal of Indonesia's Literature in Curriculum guidebook (Keputusan Mendikbudristek No. 025/H/P/2024) following controversy over explicit content exposes a structural gap: the absence of a linguistically grounded, replicable instrument for vetting literary texts — a gap most consequential for Islamic prophetic literature, which dominates Indonesian public readership yet remains vulnerable to dogmatic misreading when its Arabic-rooted diction is taken at face value. Using an Exploratory Sequential Design, this study applied Jost Trier's Semantic Field Theory and Eugene Nida's Componential Analysis, framed by Kuntowijoyo's Prophetic Literature philosophy, to corpora by Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, and Lusi Rahmalia; from 312 extracted lexemes, 60 purposive tokens meeting dual inclusion thresholds (frequency ≥ 3; verified contextual deviation from KBBI) were subjected to componential analysis, with inter-rater reliability established through double independent coding (Cohen's κ = 0.84). Islamic diction was found to distribute non-randomly into three semantic fields — exoteric worship, esoteric affection, and socio-liberative relations — each mapping to one of Kuntowijoyo's prophetic pillars; most radically, the re-semantization of jihad suppressed the feature [+Militaristic] while injecting [+Feminist Liberative Agency] and [+Intellectuality], restoring the root jahada to its emancipatory etymology, while componential analysis further identified four categories of semantic-register deviation in a negative comparison corpus, demonstrating its diagnostic utility beyond ideological analysis. These findings establish componential semantic mapping as an objective, reproducible curation standard for prophetic literature in national curricula, operationalised through an ADDIE-based interactive e-book prototype that functions as a classroom close-reading instrument for context-sensitive literary education in Indonesia.
Kekerasan Simbolik dan Resistensi Kelas dalam Tiang Garam Karya Royyan Julian: Kajian Sosiologi Sastra Habiburrahman Habiburrahman; Irmalia Putri; Aisah Juli Yanti; Rico Rafly Maulana; Siti Yuliana; Anisa Fajriana Oktasari
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1488

Abstract

Pergeseran nilai kebudayaan lokal akibat penetrasi kapitalisme agraris sering kali melahirkan ketimpangan struktur kelas dan subordinasi gender yang masif di pedesaan. Artikel ini bertujuan untuk mengurai konstelasi ranah sosial (arena), formasi habitus tokoh utama (Kana), dan mekanisme pertarungan modal (ekonomi, kultural, sosial, dan simbolik) di Dusun Kotasek, sebagaimana direpresentasikan dalam novel Tiang Garam karya Royyan Julian. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra berbasis strukturalisme konstruktif Pierre Bourdieu, analisis difokuskan pada teks novel sebagai data primer yang dibedah melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, dominasi kelas borjuis lokal yang direpresentasikan oleh tokoh Haji Badawi ditopang oleh penguasaan mutlak atas sarana ekonomi dan manipulasi modal simbolik. Eksploitasi ini mereduksi nilai sakral masyarakat Madura, khususnya tanah sangkol (tanah warisan leluhur), menjadi komoditas pasar melalui rekayasa gaya hidup yang menipu kesadaran kelas bawah. Kedua, tokoh Kana merepresentasikan resistensi keagenan subaltern yang dinamis. Ia bertransformasi dari objek kekerasan simbolik yang teralienasi oleh stigma infertilitas patriarkal menjadi subjek rasional yang berdaya. Dengan mengakumulasi modal kultural dan ekonomi baru di luar ranah asalnya, Kana meruntuhkan hegemoni struktur dan merekonversi modalnya untuk melawan dominasi kelas penguasa lokal. Kajian ini menyimpulkan bahwa takdir sosiologis dan subordinasi perempuan di bawah bayang-bayang kuasa patriarki-kapitalistik bukanlah suatu entitas yang statis, melainkan arena yang dapat diretas melalui mobilitas spasial dan kebangkitan kesadaran kritis.