Yudha Pandapotan
Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Pustaka tentang Transformasi Pemasaran Digital Dalam Pelayanan Kesehatan: Pelajaran dari 4P ke 4C Sitta Rahma; Stevani Dewei Satyako; Yudha Pandapotan; Yul Rizal
Indonesian Journal of Economics Management and Accounting Vol. 2 No. 9 (2025): IJEMA - September 2025
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan menggunakan metodologi tinjauan pustaka sistematis yang dipandu oleh protokol PRISMA, penelitian ini mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis temuan dari 12 artikel peer-review yang diterbitkan antara Januari 2012 hingga Desember 2023, yang bersumber dari PubMed/NCBI. Analisis tematik dilakukan untuk membandingkan dan mengontraskan paradigma 4P tradisional dan 4C kontemporer dalam pemasaran kesehatan. Analisis menunjukkan bahwa kerangka kerja 4P, walaupun memiliki peran mendasar, memiliki keterbatasan karena orientasinya yang berfokus pada penjual dan ketidaktepatan dalam menangani sifat pelayanan kesehatan yang tidak berwujud, emosional, dan kompleks. Era digital mempercepat adopsi model 4C yang terbukti lebih relevan dan efektif untuk pemasar kesehatan. Pendekatan berfokus pasien ini memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam terhadap perjalanan pasien, memungkinkan keterlibatan yang dipersonalisasi, mempromosikan komunikasi biaya yang transparan, meningkatkan aksesibilitas melalui kanal digital seperti telehealth, serta mendorong dialog dua arah dan pembentukan komunitas Dalam konteks pelayanan kesehatan di Indonesia, transisi ini sangat berarti. Populasi digital yang berkembang pesat memberikan peluang besar bagi pemasaran digital untuk menjembatani kesenjangan geografis, mendidik dan memberdayakan pasien, mempersonalisasi keterlibatan, serta meningkatkan efisiensi operasional. Namun, tantangan seperti kesenjangan literasi digital, keterbatasan infrastruktur, kekhawatiran privasi data, dan keberagaman budaya harus ditangani secara cermat. Kerangka kerja 4C menawarkan strategi yang kuat untuk mengembangkan inisiatif pemasaran digital yang efektif di Indonesia, dengan menekankan responsivitas, empati, dan pada akhirnya, pelayanan kesehatan yang lebih berdampak. Implementasinya memberdayakan pasien, membangun kepercayaan, dan berkontribusi pada penyediaan layanan kesehatan yang lebih efektif dan efisien
Sintesis Kritis Bauran Pemasaran Jasa 7P Rumah Sakit: Menuju Model Integratif Berbasis Pengalaman Pasien di Era Digital Stevani Dewi Setyako; Sitta Rahma; Yudha Pandapotan; Yul Rizal; A. Rohendi
Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Vol. 3 No. 12 (2026): NJMS - Juli 2026
Publisher : PT. Inovasi Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persaingan antar rumah sakit yang semakin ketat, pergeseran perilaku pasien menjadi konsumen yang aktif mencari informasi, serta akselerasi digitalisasi layanan kesehatan menuntut rumah sakit mengelola pemasaran jasa secara lebih terintegrasi. Bauran pemasaran jasa atau service marketing mix (7P) product, price, place, promotion, people, process, dan physical evidence telah banyak diadopsi, namun penerapannya di berbagai rumah sakit masih bersifat parsial dan belum terintegrasi secara strategis. Artikel ini bertujuan mensintesis literatur mengenai peran masing-masing elemen 7P dalam memengaruhi kepuasan dan loyalitas pasien serta daya saing rumah sakit, sekaligus mengidentifikasi kesenjangan penelitian dan merumuskan arah pengembangan model integratif. Kajian ini menggunakan pendekatan narrative review terhadap literatur nasional dan internasional yang terbit antara tahun 2015 hingga 2025, ditelusuri dari basis data Scopus, PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan Google Scholar, dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan, kemudian dianalisis secara tematik. Elemen people, process, dan physical evidence secara konsisten terbukti menjadi determinan dominan kepuasan dan loyalitas pasien dibandingkan elemen yang bersifat transaksional seperti price dan promotion. Ketidaksinkronan antarelemen 7P menyebabkan inkonsistensi pengalaman pasien, sementara digitalisasi memperluas jangkauan promotion dan place tanpa disertai integrasi menyeluruh ke seluruh elemen bauran. Diperlukan model integratif yang menempatkan pengalaman pasien sebagai poros penghubung ketujuh elemen, bukan sekadar penjumlahan elemen yang berdiri sendiri, sebagai basis strategi peningkatan daya saing rumah sakit di era digital