Alexander Situmorang
Sekolah Tinggi Teologi Providensia Batu

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pendidikan Agama Kristen Menurut Horace Bushnell Alexander Situmorang; Elis Louisa Ay; Carol Sally Sambur
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines Horace Bushnell's thoughts on Christian Religious Education as presented in his influential work, The Christian Nurture. The method used is a qualitative analysis of Bushnell's writings, supported by a historical-contextual review to understand the social and religious situation that shaped his educational theory. The research findings indicate that Bushnell emphasized the role of family and community in the organic growth of a child's faith, challenging the revivalist tradition that prioritized sudden conversion. Bushnell proposed that Christian education naturally nurture children's faith from an early age thru consistent teaching and example within the family and church community. Bushnell's thinking remains relevant, particularly in designing faith-based educational models that prioritize gradual spiritual growth over mere doctrinal instruction..   Abstrak Artikel ini mengkaji pemikiran Horace Bushnell tentang Pendidikan Agama Kristen sebagaimana dipaparkan dalam karyanya yang berpengaruh, The Christian Nurture. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif terhadap tulisan-tulisan Bushnell, didukung oleh tinjauan historis-kontekstual untuk memahami situasi sosial dan religius yang membentuk teori pendidikannya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Bushnell menekankan peran keluarga dan komunitas dalam pertumbuhan iman anak secara organik, menentang tradisi revivalisme yang mengutamakan pertobatan mendadak. Bushnell mengusulkan agar pendidikan Kristen membina iman anak-anak secara alami sejak dini melalui pengajaran dan teladan yang konsisten dalam keluarga dan komunitas gereja. Pemikiran Bushnell tetap relevan, khususnya dalam merancang model pendidikan berbasis iman yang mengutamakan pertumbuhan rohani bertahap dibandingkan pengajaran doktrinal semata. Kata Kunci: Horace Bushnell, Pendidikan Agama Kristen, The Christian Nurture.
ONTOLOGI TEOSENTRIS DAN RASIONALITAS OTONOM: ANALISA KOMPARATIF-SISTEMATIS FILSAFAT KRISTEN DAN RASIONALISME Alexander Situmorang; Elis Louisa Ay
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.140

Abstract

The historical tension between faith and reason has remained a central theme in the development of Western philosophy. Christian philosophy and modern rationalism represent two fundamentally different frameworks for understanding reality, knowledge, and truth. Christian philosophy is grounded in a theocentric worldview, wherein God is the ultimate source of all being and knowledge. In contrast, rationalism upholds the autonomy of human reason as the sole foundation for truth and epistemic authority. This article aims to provide a systematic comparison of the ontological and epistemological structures of these two traditions and to explore their implications for human understanding of existence.The study employs a qualitative, comparative-philosophical approach based on library research. It analyzes primary figures such as Augustine and Thomas Aquinas from the Christian tradition, and René Descartes and Baruch Spinoza from the rationalist tradition. The findings reveal that Christian philosophy centers knowledge on the interplay between faith and divine revelation, while rationalism isolates knowledge from divine authority and emphasizes deductive reasoning. These distinctions are not merely methodological but deeply impact each system’s metaphysics and anthropology.The article concludes that both Christian philosophy and rationalism represent comprehensive paradigms with unique strengths and limitations. It recommends a dialogical and integrative approach in contemporary philosophy to bridge the historical divide between faith and reason, especially in addressing today’s epistemological and existential challenges.Keywords: Christian Philosophy, Rationalism, Theocentric Ontology, Faith and Reason
Kajian Pemikiran Pragmatis John Dewey tentang Pendidikan sebagai Sarana Transformasi Sosial Norma Eva Joanne; Alexander Situmorang
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v5i1.278

Abstract

John Dewey merupakan salah satu tokoh utama dalam filsafat pendidikan modern yang dikenal dengan gagasan pragmatisme dan pendidikan progresif. Pemikirannya menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses sosial yang aktif dan dinamis, di mana peserta didik berinteraksi dengan lingkungan serta memperoleh pemahaman melalui pengalaman langsung. Gagasannya tentang sekolah sebagai miniatur masyarakat, belajar berbasis pengalaman, dan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai demokrasi memberikan fondasi penting bagi sistem pendidikan modern. Meskipun demikian, pandangan Dewey yang humanistik dan pragmatis berpotensi mengabaikan dimensi spiritual dan transendental yang sangat penting dalam pendidikan Kristen. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pokok-pokok pemikiran John Dewey tentang pendidikan, menganalisis kekuatan serta kelemahannya, dan menilai relevansinya bagi pengembangan pendidikan Kristen masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-analitis dengan studi literatur terhadap karya-karya Dewey dan kajian kritis dari perspektif teologi pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Dewey memiliki kontribusi signifikan dalam hal metode pembelajaran aktif, partisipatif, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis. Namun, terdapat keterbatasan karena kecenderungan pragmatisme Dewey tidak sepenuhnya selaras dengan aspek spiritualitas yang mendasari pendidikan Kristen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemikiran Dewey tetap relevan sebagai titik dialog dalam mengembangkan model pendidikan Kristen yang lebih kontekstual, dengan memanfaatkan kekuatan pendekatan progresif sekaligus mengintegrasikan dimensi spiritual dan transendental yang menjadi ciri khas pendidikan iman.