Herlina
Fakultas Keperawatan, Universitas Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT STRES PADA MAHASISWA AKHIR: FACTORS INFLUENCING STRES LEVELS OF FINAL YEAR STUDENTS Thasya Nur Oktaviona; Herlina; Tesha Hestyana Sari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i1.344

Abstract

Stres adalah cara tubuh bereaksi ketika menghadapi situasi yang dapat menyebabkan ketegangan, perubahan, ketegangan emosional, dan sebagainya. Stresor merupakan penyebab terjadinya stres. Adapun faktor-faktor stres meliputi efikasi diri, motivasi belajar, hardiness, optimisme, dan prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres (efikasi diri, motivasi belajar, hardiness, optimisme, dan prokrastinasi akademik) pada mahasiswa tingkat akhir. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif dengan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 152 responden yang diambil berdasarkan metode total sampling. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan menggunakan metode Spearman rho. Hasil penelitian yang didapatkan tingkat stres mahasiswa berada pada kategori stres normal berjumlah 58 responden (38,2%). Faktor-faktor yang mempengaruhi stres yaitu optimisme tinggi sebanyak 113 responden (24,3%), prokrastinasi akademik yang sedang sebanyak 119 responden (78,3%), efikasi diri tinggi sebanyak 150 responden (98,7%), motivasi belajar yang tinggi sebanyak 138 responden (90,8%), serta Hardiness rendah sebanyak 135 responden (88,8%). Hasil analisis bivariat didapatkan dua variabel yang mempengaruhi stress mahasiswa tingkat akhir yaitu optimisme (p= 0,000) dan prokrastinasi akademik (p= 0,031), namun efikasi diri (p= 0,070), motivasi belajar (p= 0,145), dan hardiness (p=0,442) tidak mempengaruhi tingkat stres yang dialami mahasiswa. Optimisme dan prokrastinasi akademik mempengaruhi tingkat stres mahasiswa tingkat akhir. Bagi peneliti selanjutnya untuk dapat meneliti mengenai cara mengatasi stress pada mahasiswa.
Gambaran self-efficacy pada usia dewasa madya dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rejosari, Pekanbaru: Self-efficacy among middle-aged adults with hypertension in the Rejosari Community Health Center work area, Pekanbaru Siti Rohimi; Arneliwati; Herlina
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.510

Abstract

Salah satu tantangan dalam pengelolaan hipertensi, terutama pada kelompok usia dewasa madya, adalah kesibukan dan tingginya stresor kehidupan yang menghambat penerapan perilaku hidup sehat. Rendahnya kepatuhan pasien juga masih menjadi masalah utama dalam manajemen hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran self-efficacy pada usia dewasa madya dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 333 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Self-efficacy diukur menggunakan Hypertension Self-Care Profile (HBP-SCP). Mayoritas responden memiliki tingkat self-efficacy kategori sedang (67,3%). Keyakinan tertinggi ditemukan pada aspek kepatuhan minum obat antihipertensi sesuai jadwal dokter, dengan 74,4% responden menyatakan yakin atau sangat yakin. Sebaliknya, keyakinan terendah ditemukan pada aspek pengelolaan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan pemantauan kesehatan mandiri, dengan proporsi "agak yakin" berkisar antara 45,3%–53,8%. Penguatan self-efficacy pada aspek-aspek tersebut perlu menjadi fokus intervensi keperawatan pada penderita hipertensi dewasa madya. One of the challenges in managing hypertension, especially among middle-aged adults, is the busyness and high life stressors that hinder the adoption of healthy lifestyle behaviors. Low patient adherence also remains a major problem in hypertension management. This study aimed to describe the self-efficacy of middle-aged adults with hypertension in the working area of Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. A descriptive design with a cross-sectional approach was used. A total of 333 respondents were selected using purposive sampling. Self-efficacy was measured using the Hypertension Self-Care Profile (HBP-SCP). The majority of respondents had a moderate level of self-efficacy (67.3%). The highest confidence was found in adherence to taking antihypertensive medication according to the doctor's schedule, with 74.4% of respondents reporting being confident or very confident. In contrast, the lowest confidence was found in diet management, physical activity, stress management, and self-health monitoring, with the proportion of respondents reporting "somewhat confident" ranging from 45.3% to 53.8%. Strengthening self-efficacy in these aspects should be the focus of nursing interventions for middle-aged hypertensive patients.
Hubungan self awareness dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri: The relationship between self-awareness and compliance with iron supplement consumption in adolescent girls Verina Raisya Irawan; Ari Rahmat Aziz; Herlina
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.513

Abstract

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri akibat meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan kehilangan darah saat menstruasi. Pemerintah telah melaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya pencegahan anemia, namun tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Salah satu faktor internal yang diduga berperan dalam kepatuhan konsumsi TTD adalah self-awareness. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan self-awareness dengan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri di SMK Negeri 1 Pekanbaru. Desain penelitian adalah korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 239 siswi yang dipilih menggunakan stratified random sampling. Self-awareness diukur menggunakan kuesioner yang mencakup tiga dimensi, yaitu subjektif, objektif, dan simbolik, sedangkan kepatuhan konsumsi TTD diukur berdasarkan jumlah tablet yang dikonsumsi dalam satu bulan terakhir. Mayoritas responden memiliki self-awareness yang baik pada ketiga dimensi, namun sebagian besar tidak patuh mengonsumsi TTD (67,4%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self-awareness subjektif (p = 0,397), objektif (p = 0,133), maupun simbolik (p = 0,129) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Peningkatan kepatuhan konsumsi TTD memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan melibatkan faktor eksternal seperti dukungan keluarga, teman sebaya, dan tenaga kesehatan. Anemia is a common health problem among adolescent girls due to increased iron requirements during growth and blood loss during menstruation. The government has implemented an iron supplement tablet (IST) program as an effort to prevent anemia, but compliance rates among adolescent girls remain low. One internal factor suspected to influence compliance is self-awareness. This study aimed to determine the relationship between self-awareness and iron supplement tablet compliance among adolescent girls at SMK Negeri 1 Pekanbaru. A correlational design with a cross-sectional approach was used. A total of 239 female students were selected using stratified random sampling. Self-awareness was measured using a questionnaire covering three dimensions — subjective, objective, and symbolic — while compliance was measured based on the number of tablets consumed in the past month. The majority of respondents had good self-awareness across all three dimensions, yet most were non-compliant with iron supplement tablet consumption (67.4%). No significant relationship was found between subjective (p = 0.397), objective (p = 0.133), or symbolic self-awareness (p = 0.129) and iron supplement tablet compliance. Improving compliance requires a more comprehensive approach involving external factors such as family support, peer support, and health worker involvement.