Kekambuhan malaria masih menjadi tantangan dalam upaya pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura, sehingga diperlukan penguatan pengawasan kader melalui konseling, evaluasi, dan kontrol pengobatan. Kader malaria berperan penting dalam memastikan kepatuhan pengobatan pasien dan memantau kemungkinan kekambuhan melalui kunjungan dan komunikasi langsung kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengawasan kader dengan kekambuhan malaria di wilayah kerja Puskesmas Waibu, Kabupaten Jayapura, tahun 2026. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan case-control retrospektif dengan sampel berjumlah 94 responden yang terdiri dari 47 kasus dan 47 kontrol, dipilih menggunakan purposive sampling dengan perbandingan 1:1. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 12 item yang mengukur tiga komponen pengawasan kader, yaitu konseling, evaluasi pengobatan, dan kontrol pengobatan, dan dianalisis menggunakan uji chi-square serta perhitungan odds ratio (OR). Evaluasi pengobatan menunjukkan hubungan yang paling kuat dengan kekambuhan malaria (p = 0,001; OR = 4,40), diikuti konseling kader (p = 0,004; OR = 3,47), sedangkan kontrol pengobatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p = 0,058). Penguatan kapasitas kader pada aspek konseling dan evaluasi pengobatan perlu menjadi prioritas dalam upaya pengendalian kekambuhan malaria di wilayah endemis. Malaria recurrence remains a challenge to malaria control efforts in the working area of Puskesmas Waibu, Jayapura Regency, highlighting the need to strengthen cadre supervision through counseling, treatment evaluation, and treatment monitoring. Malaria cadres play a central role in ensuring patient adherence to treatment and monitoring possible recurrence through direct visits and communication with the community. This study aimed to determine the relationship between cadre supervision and malaria recurrence in the working area of Puskesmas Waibu, Jayapura Regency, in 2026. A quantitative observational analytic design with a retrospective case-control approach was used, with a sample of 94 respondents consisting of 47 cases and 47 controls, selected using purposive sampling at a 1:1 ratio. Data were collected using a structured questionnaire comprising 12 items measuring three components of cadre supervision, namely counseling, treatment evaluation, and treatment monitoring, and analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) calculation. Treatment evaluation showed the strongest relationship with malaria recurrence (p = 0.001; OR = 4.40), followed by cadre counseling (p = 0.004; OR = 3.47), while treatment monitoring showed no significant relationship (p = 0.058). Strengthening cadre capacity in counseling and treatment evaluation should be prioritized in efforts to control malaria recurrence in endemic areas.