Stunting, atau kegagalan pertumbuhan linear pada anak, tetap menjadi krisis kesehatan global meskipun berbagai intervensi telah diterapkan. Secara global, 149,2 juta anak balita mengalami stunting, dan prevalensi di Indonesia masih melampaui ambang batas WHO. Kegagalan program yang berulang menunjukkan adanya kesenjangan antara desain intervensi berbasis bukti ilmiah dan realitas sosio-kultural masyarakat. Tinjauan sistematis ini bertujuan membandingkan efektivitas berbagai strategi pencegahan stunting serta menganalisisnya secara kritis melalui kerangka filsafat kesehatan yang mengintegrasikan dimensi ontologis (hakikat masalah), epistemologis (validitas pengetahuan), dan aksiologis (nilai dan etika). Penelitian ini mengikuti panduan PRISMA 2020 dengan penelusuran literatur pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda untuk artikel tahun 2019–2025. Data studi yang relevan diekstraksi sebanyak 8 artikel dari 1578 artikel, dinilai risiko biasnya, dan disintesis secara naratif. Hasil: Intervensi gizi-spesifik seperti suplementasi terbukti efektif secara biologis dalam jangka pendek, namun keberlanjutannya rendah tanpa integrasi konteks lokal. Sebaliknya, pendekatan multi-sektoral yang sensitif budaya dan berbasis komunitas menunjukkan keberlanjutan lebih tinggi. Analisis filosofis mengungkap tiga hambatan utama: konflik ontologis antara definisi biomedis dan persepsi budaya, hierarki epistemologis yang menomorsatukan bukti global atas pengetahuan lokal, serta kegagalan aksiologis dalam menyesuaikan intervensi dengan nilai kolektivisme masyarakat. Pencegahan stunting yang efektif dan berkelanjutan memerlukan pergeseran paradigma dari “evidence-based” menuju “context-based evidence” yang pluralistik, dengan intervensi yang selaras secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan realitas masyarakat sasaran.