Raden Muhamad Hilmi Maulana
Universitas Singaperbangsa Karawang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Literasi Algoritmik dan Otoritas Keagamaan : Kompetensi Kritis Mahasiswa Pendidikan Agama Islam dalam Menavigasi Kecerdasan Buatan (AI) Raden Muhamad Hilmi Maulana; Deni Lesmana
Jurnal Kajian Pendidikan Islam Volume 5 Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ma`arif Kalirejo Lampung Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58561/jkpi.v5i2.325

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara mendalam persinggungan antara literasi algoritmik dan otoritas keagamaan dalam lanskap wacana Islam digital yang kian dipengaruhi oleh kecerdasan buatan. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis bagaimana mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) membangun dan mempraktikkan kompetensi kritis dalam menavigasi, mengevaluasi, serta memverifikasi konten keagamaan yang dihasilkan maupun dikurasi oleh sistem berbasis AI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi digital terhadap mahasiswa pada program studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Singaperbangsa Karawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memiliki tingkat literasi digital dan kecakapan teknis yang relatif baik, kemampuan mereka dalam melakukan pembacaan kritis terhadap otoritas keagamaan berbasis AI masih cenderung tidak konsisten dan dalam banyak kasus tetap bergantung pada mekanisme validasi tradisional, seperti rujukan kepada ulama, kitab klasik, dan otoritas institusional. Penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi utama kompetensi yang diperlukan, yaitu: (1) kemampuan evaluatif terhadap akurasi dan kredibilitas konten keagamaan digital; (2) kesadaran epistemologis dalam memahami sumber, bias algoritma, dan konstruksi pengetahuan berbasis AI; serta (3) integrasi nilai-nilai keislaman dalam praktik literasi digital yang bertanggung jawab. Temuan ini menegaskan urgensi integrasi literasi algoritmik dalam kurikulum PAI sebagai upaya strategis untuk menjaga otentisitas dan integritas pengetahuan keagamaan di era kecerdasan buatan. Selain itu, penelitian ini berkontribusi dalam merumuskan kerangka konseptual literasi digital-keagamaan yang adaptif dan kontekstual bagi pendidikan tinggi Islam di era Society 5.0.
Analisis Kebutuhan Pengembangan Modul Pendidikan Agama Islam Berbasis Literasi Digital Dalam Menghadapi Disinformasi Keagamaan Raden Muhamad Hilmi Maulana; Taufik Mustofa
Indonesian Journal of Islamic Education Studies (INJURIES) Vol. 4 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Islamic Education Studies (INJURIES)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/ndn4bk42

Abstract

Advances in digital technology have transformed the way students access religious information through various digital platforms. This ease of access has been accompanied by increased exposure to religious disinformation, which has the potential to influence students’ religious understanding, attitudes, and behavior. This study aims to analyze the need to develop digital literacy-based Islamic Religious Education modules as a foundation for creating instructional materials that are adaptive to the phenomenon of religious disinformation. This study employed a questionnaire-based needs assessment design involving 106 students. The questionnaire consisted of closed-ended and open-ended questions regarding the use of digital media, experiences in obtaining religious information, the ability to distinguish between accurate information and hoaxes, and the need for digital literacy-based PAI instructional materials. Data from the closed-ended questions were analyzed descriptively using frequency and percentage, while open-ended responses were analyzed thematically. The results showed that 69.81% (74 students) used social media for more than three hours per day. A total of 72.64% (77 students) stated that they often or sometimes encountered Islamic content that was provocative or unethical. Regarding verification skills, 78.30% (83 students) agreed or strongly agreed that they were able to distinguish accurate Islamic information from misinformation. Regarding the need for instructional materials, 81.13% (86 students) stated they need Islamic Education (PAI) materials that integrate digital literacy, while 78.30% (83 students) stated that digital-based PAI modules can help them better understand the material. These findings indicate that the high intensity of digital media use and exposure to religious content in the digital space is accompanied by a need for instructional materials that not only present Islamic Education content but also integrate strategies for verifying information, evaluating source credibility, and fostering critical thinking skills. The results of the needs analysis serve as an empirical foundation for formulating the characteristics of digital literacy-based PAI modules that are relevant to students’ needs in addressing religious disinformation.