Bahar Udin
a:1:{s:5:"en_US";s:22:"Universitas Mulawarman";}

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KARAKTERISASI KANDUNGAN HARA PUPUK ORGANIK PADAT BERBASIS LIMBAH NANAS DAN KOTORAN TERNAK DI KABUPATEN KUTAI TIMUR Bahar Udin; Suhardi Suhardi; Agusty Saputra
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol. 13 No. 1 (2026): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v13i1.12850

Abstract

Pemanfaatan limbah organik yang berasal dari limbah kulit nanas serta kotoran ternak seperti sapi dan ayam memiliki berpotensi tinggi sebagai pupuk organik, karena mampu meningkatkan kandungan unsur hara tanah serta mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan hara pada kombinasi limbah nanas dan kotoran hewan yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Karya Mandiri di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan evaluatif. Penelitian dilakukan melalui analisis laboratorium terhadap sampel pupuk organik padat untuk mengukur parameter kimia utama, yang selanjutnya dibandingkan dengan standar mutu pupuk organik berdasarkan SNI 7763:2024. Secara umum, pupuk organik yang dihasilkan memiliki potensi sebagai sumber hara alternatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan C-organik sebesar 32,20%, yang mengindikasikan tingginya bahan organik dalam pupuk. Nilai pH sebesar 7,15 tergolong netral dan sesuai untuk mendukung ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Kandungan fosfor total (P₂O₅) sebesar 4,09% dan kalium (K₂O) sebesar 3,65% menunjukkan bahwa pupuk ini cukup kaya akan unsur hara makro esensial. Namun, kandungan nitrogen (N) tidak terdeteksi (di bawah batas deteksi 0,01%), sehingga rasio C/N tidak dapat dihitung. Kadar air tercatat sebesar 35,56%, yang masih relatif tinggi dan dapat mempengaruhi stabilitas serta daya simpan pupuk.