Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengembangan Teknologi Produksi Keripik Laut Rendah Minyak Berbasis Komunitas untuk Meningkatkan Penghidupan dan Ketahanan Iklim Pesisir di Luwu Utara, Sulawesi Selatan Kurniati Tajuddin; Chalik Mawardi; Thitin Binalopa; Ehlisa Ehlisa; ST. Khaeratul Mukarramah; Rahman Syam
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i1.754

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi produksi keripik rumput laut rendah minyak berbasis komunitas di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Masyarakat pesisir Luwu Utara telah lama membudidayakan rumput laut jenis Eucheuma Cottonii sebagai mata pencaharian utama, namun pengolahan bernilai tambah masih sangat terbatas, sehingga pendapatan masyarakat tetap rendah dan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas. Program ini memperkenalkan teknologi penggorengan vakum (vacuum frying) berskala komunitas yang dikombinasikan dengan penguatan kapasitas masyarakat secara komprehensif, meliputi pelatihan teknologi pengolahan, pengendalian mutu produk, pengemasan dan pelabelan, manajemen usaha, serta pemasaran digital. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat berhasil memproduksi keripik rumput laut dengan kadar minyak rata-rata 12,3 ± 1,8% (b/b), jauh lebih rendah dibandingkan keripik hasil penggorengan konvensional (28,7 ± 2,3%). Kualitas sensoris produk dinilai lebih unggul dengan masa simpan mencapai 60 hari. Pendapatan rumah tangga meningkat sekitar 45% dibandingkan penjualan rumput laut kering mentah. Peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan dan kepercayaan diri yang signifikan dalam mengelola usaha pengolahan berbasis teknologi. Program ini berkontribusi pada penguatan ketahanan iklim pesisir melalui diversifikasi sumber pendapatan, mengurangi ketergantungan pada komoditas tunggal, dan membangun kapasitas adaptif masyarakat terhadap gangguan iklim. Model program ini dapat direplikasi di komunitas pesisir budidaya rumput laut lainnya di Indonesia bagian timur.
Karakterisasi Fisikokimia Tepung Sagu Termodifikasi sebagai Bahan Baku Pangan Fungsional Berbasis Pangan Lokal Chalik Mawardi; Kurniati Tajuddin; Rahman Syam; Ehlisa Ehlisa
Wanatani Vol. 6 No. 1 (2026): Edisi Februari-Juni
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/wanatani.v6i1.774

Abstract

Tepung sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial dari tanaman lokal Indonesia yang memiliki prospek besar sebagai bahan baku pangan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi sifat fisikokimia tepung sagu termodifikasi menggunakan metode Heat Moisture Treatment (HMT) serta mengevaluasi potensinya sebagai bahan baku pangan fungsional, khususnya pada parameter kadar karbohidrat, serat pangan, dan kandungan mineral. Sampel tepung sagu dimodifikasi menggunakan metode fisik pada variasi suhu (80°C, 100°C, 120°C) dan waktu perlakuan (4, 8, 12 jam). Parameter yang dianalisis meliputi kadar karbohidrat, serat pangan (serat larut dan tidak larut), serta kandungan mineral (kalsium, fosfor, besi, dan kalium). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi HMT pada suhu 100°C selama 8 jam menghasilkan tepung sagu termodifikasi terbaik dengan kadar karbohidrat total sebesar 85,42 ± 1,23%, kandungan serat pangan total 6,78 ± 0,45% yang terdiri atas serat larut 2,14 ± 0,18% dan serat tidak larut 4,64 ± 0,31%, serta kandungan mineral meliputi kalsium (38,7 mg/100 g), fosfor (112,4 mg/100 g), besi (2,9 mg/100 g), dan kalium (145,6 mg/100 g). Modifikasi fisik secara signifikan meningkatkan kandungan pati resisten dan serat pangan dibandingkan tepung sagu alami, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku pangan fungsional untuk mendukung ketahanan pangan berbasis lokal.
Peningkatan Literasi Energi Nelayan melalui Pemanfaatan Bahan Bakar Gas sebagai Alternatif Pengganti Pertalite pada Mesin Kapal di Kawasan TPI/PPI Pontap Kota Palopo Ilham Sentosa; Ehlisa Ehlisa; Muh. FItra Nur Asri
Jurnal IPMAS Vol. 6 No. 2 (2026): Mei - Agustus 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/ipmas.6.2.2026.1607

Abstract

Masyarakat nelayan di kawasan TPI/PPI Pontap Kota Palopo masih bergantung pada penggunaan Pertalite sebagai bahan bakar utama mesin kapal kecil, sementara pemanfaatan bahan bakar alternatif, khususnya liquefied petroleum gas (LPG), belum banyak dipahami. Kondisi tersebut mendorong perlunya kegiatan edukasi untuk meningkatkan literasi energi masyarakat nelayan mengenai pemanfaatan LPG sebagai alternatif bahan bakar yang aman dan efisien. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman nelayan mengenai karakteristik LPG, pengenalan komponen dasar konverter kit, manfaat penggunaan bahan bakar gas, serta prosedur keselamatan dalam pengoperasian mesin kapal. Kegiatan dilaksanakan di kawasan TPI/PPI Pontap, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, melalui tahapan persiapan, sosialisasi, demonstrasi penggunaan komponen konverter kit, serta evaluasi dan diskusi bersama peserta. Pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa peserta memberikan respons positif dan berpartisipasi aktif selama sosialisasi dan demonstrasi berlangsung. Peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai karakteristik LPG, fungsi komponen konverter kit, manfaat penggunaan bahan bakar gas, serta pentingnya penerapan prosedur keselamatan sebelum teknologi konversi diterapkan pada mesin kapal. Diskusi bersama peserta juga menunjukkan adanya ketertarikan terhadap pemanfaatan LPG sebagai alternatif bahan bakar, meskipun masih diperlukan pendampingan teknis dan demonstrasi operasional sebelum diterapkan secara lebih luas. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan literasi energi masyarakat nelayan sekaligus mendukung pengembangan pemanfaatan bahan bakar alternatif yang aman, efisien, dan berkelanjutan pada sektor perikanan tangkap.