Limbah cangkang kerang merupakan salah satu permasalahan lingkungan utama yang dihadapi masyarakat pesisir Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Tingginya aktivitas pengolahan kerang konsumsi menghasilkan timbulan limbah cangkang dalam jumlah besar yang belum dikelola secara optimal, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan sanitasi. Di sisi lain, cangkang kerang memiliki kandungan kalsium karbonat (CaCO₃) yang tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pendukung pakan ternak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merumuskan dan mengimplementasikan model pemanfaatan limbah cangkang kerang berbasis ekonomi sirkular melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), yang meliputi pemetaan potensi dan permasalahan desa, diskusi kelompok terfokus, pelatihan teknis pengolahan limbah, serta pendampingan awal kepada kelompok sasaran. Kegiatan ini melibatkan masyarakat pesisir, pelaku UMKM pengolahan kerang, kelompok peternak, dan BUMDes Desa Pasinan. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan limbah cangkang kerang dan potensi pemanfaatannya sebagai bahan pendukung pakan ternak. Analisis SWOT mengindikasikan bahwa ketersediaan bahan baku yang melimpah dan dukungan kelembagaan desa menjadi faktor pendukung utama keberlanjutan program, meskipun masih terdapat tantangan berupa keterbatasan teknologi, data laboratorium, dan literasi teknis masyarakat. Secara keseluruhan, program ini berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan ekonomi lokal berbasis desa, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah berbasis ekonomi sirkular, serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) melalui upaya pengurangan pencemaran lingkungan pesisir. Program ini berpotensi menjadi model pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya. Shellfish shell waste is one of the major environmental problems faced by coastal communities in Pasinan Village, Lekok District, Pasuruan Regency. The high intensity of shellfish processing activities generates a large amount of shell waste that has not been optimally managed, resulting in environmental pollution and sanitation issues. On the other hand, shellfish shells contain high levels of calcium carbonate (CaCO₃), which have the potential to be utilized as a supplementary material for animal feed. This community service program aimed to formulate and implement a circular economy–based model for shellfish shell waste utilization through a community empowerment approach. The program employed the Participatory Rural Appraisal (PRA) method, which included mapping local potentials and problems, focus group discussions, technical training on waste processing, and initial mentoring of target groups. The activities involved coastal communities, shellfish-processing micro and small enterprises, livestock farmer groups, and the Village-Owned Enterprise (BUMDes) of Pasinan Village. The results indicate an increased level of community awareness and understanding regarding shellfish shell waste management and its potential use as a supplementary material for animal feed. The SWOT analysis shows that the abundant availability of raw materials and strong institutional support at the village level are key factors supporting program sustainability, although challenges remain in terms of technological limitations, the availability of laboratory-based data, and community technical literacy. Overall, this program contributes to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) through strengthening local, village-based economic activities, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) through circular economy–based waste utilization, and SDG 14 (Life Below Water) by reducing coastal environmental pollution. This program has the potential to serve as a replicable model for community-based waste management in other coastal areas.