Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah dua penyakit menular yang kerap muncul bersamaan dan menjadi tantangan kesehatan di tingkat global, termasuk di Indonesia. Koinfeksi TB dan HIV memerlukan pengobatan kombinasi antara Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Antiretroviral (ARV), yang dapat menyebabkan interaksi obat. Interaksi ini dapat memengaruhi efektivitas pengobatan serta meningkatkan kemungkinan munculnya efek samping, sehingga perlunya analisis lebih mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kemungkinan terjadinya interaksi obat, jenis interaksi, serta tingkat keparahan interaksi antara OAT dan ARV pada pasien TB yang juga mengidap HIV di instalasi rawat jalan RSI Sunan Kudus. Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan desain observasional analitik pendekatan cross sectional. Sampel penelitian melibatkan 45 responden yang diambil melalui teknik total sampling dengan berdasarkan data rekam medis pasien TB-HIV. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medis pasien selama bulan Januari – Oktober 2025. Analisis data dilakukan baik secara univariat maupun bivariat. Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden didominasi oleh laki - laki sebanyak 55,6% dan perempuan 44,4%. Dari segi usia, mayoritas berada pada kisaran usia 41-60 tahun sebesar 40,0%. Dari pendidikan, sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan tidak sekolah dan smp masing-masing dengan persentase 26,7%. Sekitar 95,6% pasien memiliki riwayat terapi lebih dari enam bulan. Sebelum analisis interaksi obat dilakukan. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi obat dengan kategori moderete adalah yang paling umum ditemukan, mencapai 82,8%, diikuti oleh interaksi mayor yang tercatat sebesar 17,2%. Dari segi mekanisme, interaksi yang bersifat farmakokinetik minimal/ tidak bermakna klinis lebih mendominasi dengan persentase sebesar 53,3%, sementara farmakokinetik mencakup 46,7%. Analisis perbandingan sebelum dan sesudah menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam identifikasi interaksi obat yang sebelumnya tidak terdeteksi menjadi terdeteksi pada sebagian besar pasien. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB-HIV menghadapi potensi interaksi obat, dengan interaksi pada tingkat moderete serta mekanisme farmakokinetik minimal/ tidak bermakna klinis yang paling sering terjadi. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemantauan terapi secara ketat guna menghindari efek samping dan meningkatkan efektivitas pengobatan.