Linda Afriani
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Awang Long, Samarinda, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI SMART VILLAGE DALAM PERSPEKTIF ADMINISTRASI PUBLIK: STUDI KASUS DI KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR Linda Afriani; Adi Wijaya; Husni Fahrudin
Collegium Studiosum Journal Vol. 9 No. 1 (2026): Collegium Studiosum Journal
Publisher : LPPM STIH Awang Long

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56301/csj.v9i1.2326

Abstract

The implementation of the Smart Village concept has evolved as a strategic approach to address regional challenges, including gaps in public services and technological access. This study aims to analyze the implementation of the Smart Village program in Samarinda City, East Kalimantan, from a public administration perspective using George C. Edward III’s policy implementation framework, which encompasses four variables: communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. A qualitative descriptive approach was employed, focusing on case studies in Kelurahan Lempake and Kelurahan Pelita. Data were analyzed utilizing Miles and Huberman’s interactive model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the application of Smart RT and SamaGov/Samagov in both urban villages has successfully enhanced service efficiency, accelerated administrative processes, and enabled a paperless system. Nonetheless, the implementation continues to face challenges, such as low digital literacy among the public (particularly the elderly), limited human resource capacity of village/neighborhood (RT) officials, centralized archival data management at the city government level, and the absence of real-time monitoring dashboards at the urban village level. This study concludes that strong administrative commitment and adaptive communication patterns serve as the key determining factors for the success of this digital transformation.
PENDAMPINGAN TEKNOLOGI PERTANIAN SEBAGAI UPAYA PENGUATAN KEMANDIRIAN EKONOMI BAGI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN LAPAS KELAS 1 MALANG Otto Fajarianto; Khusnul Khotimah; Dwi Wulandari; Ponasari Mutiara; Izmy Maulidya Azelina; Linda Afriani; Eka Rista Harimurti
SEPAKAT Sesi Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): SEPAKAT DESEMBER 2025
Publisher : INTERNATIONAL PENELITI EKONOMI, SOSIAL, DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56371/sepakat.v5i2.441

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas 1 Malang melalui pendampingan teknologi pertanian. Program ini dilatarbelakangi oleh kondisi warga binaan yang membutuhkan keterampilan produktif selama masa pembinaan, serta keterbatasan sarana alat pertanian modern, akses terhadap teknologi pertanian terkini, dan minimnya pendampingan tenaga ahli. Metode pelaksanaan kegiatan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu identifikasi masalah melalui observasi, kajian pustaka, dan diskusi bersama pihak Lapas; implementasi program melalui pengadaan alat pertanian modern, pelatihan teknologi pertanian, dan pendampingan teknis; serta evaluasi dan pelaporan kegiatan berdasarkan hasil praktik dan observasi lapangan. Kegiatan dilaksanakan pada 12–20 Juni 2025 di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Ngajum, Malang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengadaan alat pertanian modern disambut antusias oleh warga binaan dan berhasil meningkatkan efisiensi kerja pertanian. Pelatihan teknis yang mencakup teori dan praktik langsung meningkatkan pemahaman serta keterampilan WBP dalam mengoperasikan alat dan menerapkan teknik pertanian presisi. Pendampingan intensif juga mendorong terbentuknya sistem kerja kelompok yang efektif dan peningkatan motivasi partisipan dalam kegiatan pertanian. Evaluasi akhir menunjukkan peningkatan kapasitas teknis, kedisiplinan, serta kesiapan WBP dalam menjalankan kegiatan produktif secara mandiri. Kesimpulannya, kegiatan ini berhasil membentuk kompetensi teknis yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan secara berkelanjutan. Program ini direkomendasikan untuk direplikasi di lembaga pemasyarakatan lainnya sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian yang kontekstual dan aplikatif.