Elisabeth Endang Ektovia Br Sitorus
STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

STRATEGI GURU PENDIIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENANGGULANGI RASA BERSALAH BERLEBIHAN (GULIT) PADA SISWA KELAS XI DI SMA SANTO ANTONIUS BANGUN MULIA MEDAN Elisabeth Endang Ektovia Br Sitorus; Mimpin Sembiring
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11308

Abstract

ABSTRACT Guilt is a negative emotion that arises when individuals feel they have committed moral, social, or ethical wrongdoing. In students, excessive Guilt can affect emotional conditions, behavior, and the learning process at school. This study aimed to identify the forms of Guilt experienced by eleventh-grade students at St. Antonius Bangun Mulia Senior High School Medan and to examine the strategies used by Catholic Religious Education teachers in overcoming students’ Guilt. This study employed a qualitative approach with a descriptive research design. The research subjects consisted of Catholic Religious Education teachers, the principal, and eleventh-grade students. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while data validity was tested through source triangulation and technique triangulation. The results showed that students’ Guilt appeared in cognitive, affective, and behavioral aspects. In the cognitive aspect, students demonstrated awareness of mistakes and personal responsibility. In the affective aspect, students experienced feelings of anxiety, shame, fear, sadness, and regret that affected their emotional condition and learning concentration. In the behavioral aspect, students showed the desire to apologize, correct mistakes, withdraw from the social environment, and display perfectionistic behavior. The study also found that Catholic Religious Education teachers play important roles as educators of faith and morality, spiritual mentors, role models of Christian life, facilitators of religious activities, and builders of faith communities through warm, reflective, and non-judgmental approaches that help students understand mistakes as part of the learning and character-building process. ABSTRAK Guilt merupakan emosi negatif yang muncul ketika individu merasa telah melakukan kesalahan secara moral, sosial, maupun etis. Pada siswa, Guilt yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi emosional, perilaku, serta proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk Guilt pada siswa kelas XI di SMA St. Antonius Bangun Mulia Medan serta strategi guru Pendidikan Agama Katolik dalam menanggulangi Guilt pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas guru Pendidikan Agama Katolik, kepala sekolah, dan siswa kelas XI. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Guilt pada siswa tampak dalam aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Pada aspek kognitif, siswa menunjukkan kesadaran terhadap kesalahan dan tanggung jawab pribadi. Pada aspek afektif, siswa mengalami perasaan gelisah, malu, takut, sedih, dan menyesal yang memengaruhi kondisi emosional serta konsentrasi belajar. Pada aspek perilaku, siswa menunjukkan keinginan meminta maaf, memperbaiki kesalahan, menarik diri dari lingkungan sosial, dan perilaku perfeksionisme. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik berperan sebagai pendidik iman dan moral, pembimbing spiritualitas, teladan hidup Kristiani, fasilitator kegiatan keagamaan, serta pembangun komunitas beriman melalui pendekatan yang hangat, reflektif, dan tidak menghakimi sehingga membantu siswa memahami kesalahan sebagai proses pembelajaran dan pembentukan karakter.