Penelitian ini bertujuan untuk memahami ketangguhan psikologis dan perkembangan kepribadian pada ibu tunggal dalam menghadapi tekanan kehidupan setelah perceraian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif partisipan secara mendalam. Subjek penelitian terdiri dari tiga orang ibu tunggal dengan latar belakang pekerjaan dan pengalaman hidup yang berbeda. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi terstruktur dan dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan mengalami tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi akibat konflik rumah tangga seperti perselingkuhan, kekerasan verbal, kurangnya tanggung jawab pasangan, serta tekanan emosional berkepanjangan. Setelah menjadi ibu tunggal, partisipan menghadapi tantangan berupa kelelahan emosional, kesulitan ekonomi, dan perubahan hubungan sosial. Namun demikian, pengalaman hidup tersebut juga membentuk ketangguhan psikologis yang terlihat dari kemampuan bertahan, menyesuaikan diri, serta menjalankan tanggung jawab sebagai ibu secara mandiri. Anak menjadi sumber motivasi utama bagi seluruh partisipan untuk tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan turut membantu proses adaptasi psikologis partisipan. Penelitian juga menunjukkan adanya perkembangan kepribadian setelah menjadi ibu tunggal, seperti meningkatnya kemandirian, kedewasaan emosional, kemampuan mengendalikan diri, rasa percaya diri, serta prinsip hidup yang lebih kuat. Dengan demikian, pengalaman hidup sebagai ibu tunggal tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis, tetapi juga menjadi proses pembentukan ketangguhan dan kematangan kepribadian individu.