Mushthafa Shadiq Al-Rafi’i
UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bilingualisme dan Diglosia dalam Pembelajaran Bahasa Arab: Tinjauan Sosiolinguistik melalui Systematic Literature Review Mushthafa Shadiq Al-Rafi’i; Muhammad Aceng Tata; Achmad Amin Zuhdi; Ade Nandang; Izzudin Mustafa
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2844

Abstract

Pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing tidak terlepas dari penggunaan lebih dari satu bahasa, yang mencerminkan adanya fenomena bilingualisme dan diglosia dalam praktik pembelajaran. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pendukung serta perbedaan fungsi antara ragam bahasa Arab menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya bersifat linguistik, tetapi juga sosiolinguistik. Namun demikian, kajian yang mengintegrasikan kedua fenomena tersebut secara sistematis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mensintesis fenomena bilingualisme dan diglosia dalam pembelajaran bahasa Arab berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Metode yang digunakan adalah systematic literature review (SLR) dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah menggunakan perangkat lunak Publish or Perish yang terintegrasi dengan Google Scholar, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria relevansi dan tahun publikasi. Sebanyak lima artikel yang memenuhi kriteria dianalisis melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, dan sintesis untuk mengidentifikasi persamaan, perbedaan, pola, serta implikasi temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bilingualisme berfungsi sebagai strategi pedagogis yang membantu meningkatkan pemahaman peserta didik, sementara diglosia berperan sebagai sistem distribusi bahasa yang mengatur penggunaan ragam bahasa sesuai konteks. Selain itu, ditemukan adanya pola dominasi bahasa pertama dalam pembelajaran, serta penggunaan alih kode dan campur kode sebagai mekanisme komunikasi. Meskipun memberikan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman, penggunaan bilingualisme yang tidak terkontrol berpotensi mengurangi paparan bahasa Arab sebagai bahasa target. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan penggunaan bahasa yang seimbang agar pembelajaran bahasa Arab dapat berlangsung secara efektif dan optimal.
Analisis Komparatif Konsep Ilmu Filsafat Islam dan Filsafat Barat Modern Mushthafa Shadiq Al-Rafi’i; Rohanda Rohanda; Abdul Kodir
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2196

Abstract

Perdebatan mengenai konsep ilmu antara Filsafat Islam dan Filsafat Barat Modern menjadi semakin relevan dalam era globalisasi ketika paradigma ilmu pengetahuan berkembang pesat dan memengaruhi sistem pendidikan. Kedua tradisi filsafat ini memiliki fondasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang berbeda sehingga memunculkan cara pandang yang tidak selalu sejalan dalam memahami hakikat, sumber, dan tujuan ilmu. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis komparatif terhadap konsep ilmu dalam Filsafat Islam dan Filsafat Barat Modern, dengan fokus pada aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi serta implikasi pedagogisnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan melalui penelusuran buku, artikel ilmiah, prosiding, dan publikasi akademik yang relevan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi dan analisis komparatif untuk mengidentifikasi persamaan, perbedaan, kekuatan, dan kelemahan dari masing-masing tradisi filsafat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Filsafat Islam memandang ilmu sebagai entitas yang bernilai dan terikat wahyu, sedangkan Filsafat Barat Modern menempatkan ilmu sebagai produk rasional dan empiris yang cenderung bebas nilai. Secara ontologis, Islam menekankan kesatuan antara realitas empiris dan transenden, sementara Barat cenderung memisahkannya. Epistemologi Islam bersifat integratif, sedangkan epistomologi Barat bercorak rasional dan positivistik. Analisis komparatif juga menemukan peluang integrasi keduanya dalam pendidikan, terutama dalam membangun sistem pembelajaran yang seimbang antara rasionalitas ilmiah dan etika spiritual. Penelitian ini menegaskan pentingnya rancangan pendidikan integratif sebagai upaya harmonisasi dua paradigma keilmuan tersebut.