Sri Satyaningtyas
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Wounded Masculinity Perspektif Al-Qur’an: Analisis Kerangka Teoretis untuk Mewujudkan Keadilan Gender Sri Satyaningtyas; Ahmad Zain Sarnoto; Nur Rofiah
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2906

Abstract

Fenomena wounded masculinity (maskulinitas yang terluka) merupakan persoalan sosial dan psikologis yang muncul akibat konstruksi maskulinitas patriarkal yang kaku, menuntut laki-laki untuk selalu kuat, dominan, dan menekan ekspresi emosional. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental laki-laki, tetapi juga memperparah ketimpangan relasi gender dan kekerasan berbasis gender. Kajian gender selama ini cenderung berfokus pada perempuan sebagai korban patriarki, sementara krisis identitas dan luka sosial yang dialami laki-laki masih relatif terabaikan, khususnya dalam studi tafsir Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep wounded masculinity, mengkaji respons Al-Qur’an terhadap problematika maskulinitas, serta membangun kerangka teoritis integratif antara tafsir Al-Qur’an dan teori gender guna mewujudkan keadilan gender. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), serta analisis tematik dan hermeneutik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan maskulinitas, relasi gender, dan ekspresi emosional laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak menetapkan satu model maskulinitas tunggal, melainkan mengakomodasi keberagaman ekspresi maskulinitas yang bersifat manusiawi, emosional, dan spiritual. Al-Qur’an menawarkan strategi preventif dan kuratif terhadap wounded masculinity melalui nilai-nilai keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan keseimbangan relasi gender. Penelitian ini merumuskan konsep positive masculinity perspektif Al-Qur’an sebagai alternatif atas maskulinitas hegemonik dan patriarkal. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan tafsir berperspektif gender yang tidak hanya membela perempuan, tetapi juga membebaskan laki-laki dari luka konstruksi maskulinitas yang merugikan, serta mendorong terwujudnya relasi gender yang lebih adil, inklusif, dan berkeadaban.