Caregiver pada orang tua anak berkebutuhan khusus menghadapi berbagai tuntutan pengasuhan yang dapat menurunkan Subjective well-being dan kualitas hidupnya. Subjective well-being merupakan salah satu aspek psikologis yang berkaitan dengan kemampuan caregiver dalam menjalankan peran pengasuhan sekaligus mempertahankan kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara subjective well-being dengan kualitas hidup caregiver pada orang tua anak berkebutuhan khusus di SLB Kota Ternate. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 163 caregiver orang tua anak berkebutuhan khusus yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari Skala Subjective Well-Being yang disusun berdasarkan aspek Diener et.al., (2018) dan Skala Kualitas Hidup yang disusun berdasarkan aspek Power dalam Lopez dan Snyder (2004). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara subjective well-being dengan kualitas hidup caregiver pada orang tua anak berkebutuhan khusus di SLB Kota Ternate dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,893 dan nilai signifikansi sebesar p = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi subjective well-being yang dimiliki caregiver, maka semakin tinggi pula kualitas hidup yang dirasakan. Sebaliknya, semakin rendah subjective well-being, maka semakin rendah pula kualitas hidup caregiver. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa subjective well-being memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kualitas hidup caregiver. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program pendampingan psikologis, edukasi, serta dukungan sosial bagi caregiver untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup mereka.