Achmad Kusyairi
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultasnya Teknologi Pangan dan Perikanan, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Deteksi dan Prevalensi Infeksi (Enterocytozoon Hepatopenaei) pada Benur Udang Vanname (Litopenaeus Vannamei) di Jawa Timur : Detection and Prevalence of Enterocytozoon hepatopenaei Infection in Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Post-Larvae in East Java, Indonesia Nunuk Ari Setyawati; Sri Oetami Madyowati; Achmad Kusyairi
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.104

Abstract

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu komoditas akuakultur bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap hepatopancreatic microsporidiosis akibat infeksi Enterocytozoon hepatopenaei (EHP). Infeksi EHP pada stadia benur umumnya tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas sehingga deteksi dini diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit ke tambak pembesaran. Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan EHP dan menentukan prevalensi infeksinya pada benur udang vanname stadia PL16–PL20 yang berasal dari empat lokasi di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 80 sampel benur dikumpulkan dari Banyuwangi, Situbondo, Sidoarjo, dan Tuban, masing-masing sebanyak 20 sampel. Deteksi EHP dilakukan melalui ekstraksi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dengan target fragmen 510 pasangan basa, dan visualisasi menggunakan elektroforesis gel agarosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel dari Banyuwangi dan Situbondo negatif terhadap EHP dengan prevalensi 0%. Sebaliknya, lima dari 20 sampel benur asal Sidoarjo terdeteksi positif dengan prevalensi 25%, sedangkan tiga dari 20 sampel asal Tuban positif dengan prevalensi 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi EHP dapat terjadi sejak stadia benur dan memperlihatkan variasi prevalensi antarwilayah. Oleh karena itu, penerapan biosekuriti yang ketat, pengelolaan kualitas air yang optimal, serta penggunaan induk dan benur bersertifikat bebas patogen perlu diprioritaskan untuk mengurangi risiko penyebaran EHP pada sistem budidaya udang vanname.
Pengaruh Kepadatan pada Pengangkutan Sistem Basah Tertutup terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele (Clarias sp.) Umur 30 Hari: Effect of Different Stocking Densities during Closed Wet Transportation on the Survival of 30-Day-Old Catfish (Clarias sp.) Fry Doni Setiyo Wahyudi; Sumaryam; Achmad Kusyairi
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.105

Abstract

Distribusi benih ikan lele memerlukan sistem pengangkutan yang mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup selama proses transportasi. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan transportasi adalah kepadatan benih dalam media pengangkutan, karena kepadatan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan stres dan menurunkan kualitas lingkungan media. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepadatan berbeda dalam sistem pengangkutan basah tertutup terhadap kelangsungan hidup benih ikan lele (Clarias sp.) umur 30 hari serta menentukan kepadatan yang paling efektif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 125, 150, 175, dan 200 ekor per kantong dalam 1,5 L air, masing-masing dengan enam ulangan. Benih dipuasakan selama 24 jam sebelum diangkut selama ±5 jam menggunakan perbandingan air dan oksigen 1:2. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup, suhu, dan pH media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada kepadatan 125 ekor/kantong sebesar 99,20%, diikuti 150 ekor/kantong sebesar 98,56%, 175 ekor/kantong sebesar 97,24%, dan 200 ekor/kantong sebesar 83,08%. Suhu akhir berkisar antara 26,7–26,9 °C dan pH antara 6,3–6,6. Berdasarkan hasil penelitian, kepadatan 125 ekor/kantong direkomendasikan sebagai kepadatan yang paling aman untuk pengangkutan benih ikan lele selama lima jam dalam sistem basah tertutup.
Pengaruh Dosis Minyak Sereh (Cymbopogon nardus) terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Koi (Cyprinus carpio) pada Transportasi Sistem Basah Tertutup: Effect of Citronella Oil (Cymbopogon nardus) Dosage on the Survival of Koi (Cyprinus carpio) Fingerlings during Closed Wet Transportation Rio Prastono; Achmad Kusyairi; Sri Oetami Madyowati
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 7 No. 1 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v7i1.114

Abstract

Transportasi benih ikan koi (Cyprinus carpio) dengan sistem basah tertutup berpotensi meningkatkan stres, konsumsi oksigen, dan mortalitas akibat keterbatasan ruang angkut. Minyak sereh (Cymbopogon nardus), yang mengandung sitronelal, geraniol, dan sitronelol, berpotensi digunakan sebagai sedatif alami untuk mengurangi respons stres selama transportasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dosis minyak sereh terhadap kelangsungan hidup benih koi serta menentukan dosis yang paling efektif untuk transportasi sistem basah tertutup. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dosis minyak sereh (1, 2, 3, dan 4 mL/L), masing-masing enam ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 30 ekor benih koi berukuran 10–12 cm yang diangkut selama lima jam dalam kantong plastik berisi 8 L air dan oksigen murni. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis minyak sereh berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup benih koi. Dosis 2 mL/L menghasilkan survival rate tertinggi sebesar 97,78%, sedangkan dosis 1, 3, dan 4 mL/L masing-masing menghasilkan 79,44%, 57,22%, dan 15,00%. Selama transportasi, kualitas air masih berada pada kisaran layak, yaitu suhu 25,8–26,4°C, pH 6,8–7,2, dan oksigen terlarut 5,2–6,8 mg/L. Dengan demikian, dosis 2 mL/L direkomendasikan sebagai dosis efektif minyak sereh untuk meningkatkan keberhasilan transportasi benih koi pada sistem basah tertutup.