Yanto Santosa
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi Kebun Sawit Rakyat Berdasarkan Persepsi Masyarakat di Sekitar PT. SAML Femei Rahmilija; Yanto Santosa; Hafizah Nahlunnisa; Beti Septiana Darsono
Cannarium Vol 24 No 1 (2026): 24(1)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cannarium.v24i1.11731

Abstract

Kebun sawit rakyat berperan penting dalam perekonomian pedesaan, namun kajian dampaknya dari perspektif masyarakat lokal pada lanskap yang berdekatan dengan perkebunan perusahaan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi masyarakat terhadap dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi kebun sawit rakyat serta kontribusinya terhadap kesejahteraan ekonomi rumah tangga di Desa Rengas Abang dan Desa Bukit Batu, Provinsi Sumatera Selatan. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi lapangan, kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan persentase persepsi responden serta analisis share dan covering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat memiliki persepsi positif terhadap kebun sawit rakyat. Dari aspek lingkungan, seluruh responden (100%) menyatakan tidak terjadi degradasi lahan, sementara sebagian besar menilai tidak mencemari sungai (85,18%) dan tidak menyebabkan banjir (91,35%). Dari aspek sosial, kebun sawit rakyat dipersepsikan mendorong keterlibatan perempuan (50,62%), meningkatkan partisipasi pemuda (71,60%), dan tidak berpotensi menimbulkan konflik sosial (86,42%). Secara ekonomi, seluruh responden (100%) menilai kebun sawit rakyat membuka lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, serta mengurangi migrasi ke perkotaan (97,53%). Analisis share dan covering menunjukkan pendapatan sawit pada sebagian besar responden mampu menutup bahkan melampaui pengeluaran rumah tangga. Temuan ini dapat menjadi dasar perumusan kebijakan kebun sawit rakyat yang berkelanjutan.
Peran Perempuan dan Kelembagaan Pendamping dalam Konservasi Lingkungan pada Perkebunan Kelapa Sawit Mandiri Dewi Kurniati; Yanto Santosa; Arzyana Sunkar
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 8 No. 1 (2026): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0801.1550-1554

Abstract

Perkebunan kelapa sawit mandiri berperan penting dalam perekonomian nasional, namun menghadapi tantangan terkaitĀ  lingkungan yang signifikan, terutama pengelolaan tanah dan keberlanjutan ekosistem. Dalam konteks ini, perempuan petani sawit mandiri memiliki posisi strategis karena keterlibatan langsung mereka dalam pengelolaan kebun sehari-hari serta penerapan praktik konservasi. Policy Brief ini disusun berdasarkan penelitian lapangan di Kecamatan Wiwirano, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, untuk mengidentifikasi karakteristik, praktik konservasi, dan tipologi perempuan petani sawit mandiri, serta menelaah peran lembaga pendamping dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan kebun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan petani sawit mandiri terlibat aktif dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari pembukaan lahan hingga panen dan pemasaran. Seluruh responden menerapkan pembukaan lahan tanpa bakar dan praktik tumpang sari, serta sebagian besar menggunakan pupuk organik dan pupuk kandang. Analisis tipologi mengungkap bahwa perilaku konservasi dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan utama, ukuran rumah tangga, asal lahan, tingkat keterlibatan budidaya, dan alokasi waktu kerja. Selain itu, lembaga pendamping perempuan seperti ASPPUK berperan penting dalam meningkatkan kapasitas teknis, konsistensi praktik konservasi, dan posisi pengambilan keputusan perempuan petani. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi perspektif gender dan penguatan lembaga pendamping dalam kebijakan publik guna mewujudkan perkebunan sawit mandiri yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.