This study analyzes how the hadith on the dangers of worldly abundance (istidraj) in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 2940 is recontextualized within the digital da‘wah ecosystem through the YouTube content “Hamba Cuan vs Hamba Allah – Escape Eps 18” published by the @RaymondChin account. Employing Kozinets’ netnographic approach comprising investigation, interaction, immersion, and integration this study examines how prophetic values are transformed into motivational narratives and platform-driven spiritual experiences. This study analyzes how the hadith on the dangers of worldly abundance (istidraj) in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 2940 is recontextualized within the digital da‘wah ecosystem through the YouTube content “Hamba Cuan vs Hamba Allah – Escape Eps 18” published by the @RaymondChin account. Employing Kozinets’ netnographic approach comprising investigation, interaction, immersion, and integration this study examines how prophetic values are transformed into motivational narratives and platform-driven spiritual experiences. An analysis of more than 3,500 comments indicates that the majority of users express positive responses, emotionally internalizing the hadith message as a critique of modern hedonism and as a means of self-reflection. In contrast, counter-comments reveal epistemic concerns regarding digital da‘wah practices and the potential oversimplification of hadith meanings, while neutral comments reflect flexible and non-binding forms of everyday spiritual consumption. Penelitian ini menganalisis bagaimana hadis tentang bahaya kelapangan dunia (istidraj) dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 2940 di rekontekstualisasi dalam ekosistem dakwah digital melalui konten YouTube “Hamba Cuan vs Hamba Allah – Escape Eps 18” Akun @RaymondChin. Dengan menggunakan pendekatan netnografi Kozinets meliputi tahap investigasi, interaksi, imersi, dan integrasi studi ini menelusuri bagaimana nilai-nilai profetik bertransformasi menjadi narasi motivasional dan pengalaman spiritual yang terikat logika platform. Analisis terhadap lebih dari 3.500 komentar menunjukkan bahwa mayoritas pengguna menampilkan respons positif yang secara emosional menginternalisasi pesan hadis sebagai kritik terhadap hedonisme modern sekaligus bahan refleksi diri. Sementara itu, komentar kontra menegaskan kegelisahan epistemik terhadap metode dakwah digital dan potensi penyederhanaan makna hadis, sedangkan kelompok netral memanfaatkan konten sebagai bagian dari konsumsi spiritual sehari-hari yang fleksibel dan tidak mengikat. Integrasi seluruh temuan memperlihatkan terbentuknya spiritualitas digital yang bersifat emosional, pop, dan algoritmik, selaras dengan konsep networked religion dari Heidi Campbell tentang bergesernya otoritas keagamaan dari struktur tradisional menuju pola algorithmic affective authority otoritas yang lahir dari resonansi emosional, konektivitas platform, dan performativitas pesan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa ruang komentar YouTube menjadi arena negosiasi makna, tempat hadis tidak sekadar dikutip, tetapi diproduksi ulang sesuai pengalaman hidup, kecemasan finansial, dan pencarian spiritual generasi digital.